#13 Ojo Kesusu

#13 Ojo Kesusu

Sebagai pembukaan, mari kita simak sebuah surat yang cukup menarik dibawah ini. Sesuai judul, ojo kesusu alias jangan  buru-buru.

TUTORIAL PERANG DI FB

Oleh: Anonim

2016 adalah tahunnya perselisihan. Bagi kaum melek teknologi (atau at least yang meletet dikit), media sosial jadi arena tempurnya. Seru deh. Semua punya kubu yang dijagokan, (hampir) semua punya argumen sendiri. Bagi yang tak punya argumen, Facebook punya senjata maut buat kita. Sebuah fitur maha dahsyat yang bernama “Share”. Fitur ini bak senapan yang kencangnya minta ampun buat melumpuhkan lawan. Siapa sih yang bisa berkutik kalau dihadapkan dengan fakta yang aktual, tajam, terpercaya?

Layaknya pemburu handal, cari peluru itu haruslah yang tokcer dan sesuai dengan target buruan. Targetmu korban pencitraan seorang politisi? Paling mantap ya di-dor pakai kompilasi kelakuan buruk sang politisi. Biar sembuh. Sedang berhadapan sama yang ngeyel soal toleransi? Asyiknya ya disikat pakai kombinasi logika – ayat suci – pendapat ahli agama. Biar sadar.

Ngomong-ngomong, tidak perlu berterimakasih kok kalau kamu sudah sembuh dan sadar. Niat kami tulus ingin membantu.

Situs-situs berita online jadi acuan buat mencari amunisi sehari-hari. Tapi harap maklum, kami orang sibuk, waktu luang kami tidak banyak. Suka tidak keburu kalau harus baca seluruh isi beritanya. Tapi saya yakin kok, semua kantor berita memegang teguh kode etik jurnalistik. Judul pasti sesuai dengan isinya. Isinya pasti hasil dari investigasi mendalam bermodal darah, keringat, dan air mata. Mana mungkin sih, berita palsu berani disebar? Ya tokh? Ya tokh? Waspada situs abal-abal, katamu? Apa itu? Kami tahunya bala-bala. Eh, tapi tahu kok bala-bala? Kan tempe. Intinya mah, asal beritanya sesuai dengan hati nurani saya, pasti sesuai dengan hati nurani kamu. Kalo enggak… ya kamunya aja bebal itu mah. Kzl.

Enaknya perang di dunia maya itu kami bisa jadi lebih percaya diri. Aslinya kan kami pemalu. Nulis panjang-panjang nggak akan ada yang protes. Share banyak-banyak nggak akan ada yang protes. Kalo ada yang protes, itu namanya menolak kebenaran. Serunya lagi, disini bisa hit and run gitu. Kayak lagi gerilya. Jangan salah, itu bukan tindakan pengecut. Itu namanya taktik. Makanya ya saya juga maklum kalau kamu pakai strategi itu. Namanya juga perang.

Sebelum saya mohon pamit, izinkan saya menyampaikan terimakasih kepada beberapa pihak.

Pertama, terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang mau repot-repot share artikel-artikel menarik lebih dulu, jadi saya tinggal reshare aja. Sudah saya baca kok thumbnail dan captionnya. Sangat informatif.

Kedua, terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang kreatif luar biasa yang sudah bantu bikin meme-meme (ini bacanya mim atau me-me sih?) cerdas. Mantap banget nih buat jadi senjata kalau ketemu lawan yang bebal, jadi nggak perlu nulis panjang-panjang. Sedikit saran, mbok ya resolusinya digedein gitu lain kali, ini gambarnya pecah melulu. Kasian nanti lawan debat saya nggak bisa baca.

Ketiga, terima kasih kepada pencipta FB. Tanpa kamu, mau dikemanakan waktu luang saya?

Keempat, terima kasih kepada rekan-rekan jurnalis di semua situs berita panutan saya. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup, ya. Kalian pasti capek karena harus melakukan investigasi terus-menerus, wawancara sana-sini, dan nulis artikel banyak-banyak.

Akhir kata, sampai kita berjumpa lagi. Di Facebook aja ya.

PS: Selanjutnya kami mau bikin tutorial menaklukkan Samyang Challenge.

Bukan hal ganjil lagi bagi kita untuk menemui oknum-oknum dengan perilaku bermedia sosial seperti diatas. Media sosial yang awalnya kita harapkan bisa jadi sarana untuk bercengkrama dengan orang terdekat, malah berubah jadi medan perang yang kian hari kian memanas. Semua hal bisa jadi perkara, dari yang sederhana seperti pilih #teamCap atau #teamIronman sampai isu-isu sensitif macam politik dan agama. Masih segar di ingatan kita bagaimana dahsyatnya perang argumen di dunia maya saat Pemilu 2014 lalu. Dunia maya seakan-akan terbagi dua, semua merasa capres idolanya adalah yang paling benar. Pertikaian malah terjadi di tingkat grass root. Bukannya beradu gagasan maupun rencana kedepan, malah sibuk mencari keburukan dari capres sebrang. Mirisnya, yang dulunya kawan bisa jadi lawan. Hanya karena gontok-gontokan di laman FB, silaturahmi malah jadi putus. Awalnya saling mengagungkan capres idaman, malah berakhir dengan menganjing-anjingkan teman yang tak sepaham. Padahal kedua capresnya malah adem ayem saja.

Kita adalah generasi pertama yang memasuki dan merasakan era keterbukaan informasi. Mulai dari anak kecil sampai yang sudah lanjut usia, semua bisa mendapatkan dan membagikan informasi dengan bermodal klik semata. Keran informasi bagai dibuka tanpa batas, aksesnya pun semakin mudah. Layaknya individu yang masuk ke dalam lingkungan baru, kita masih dalam tahap meraba-raba untuk mencari batas etika dari dunia maya. Bergerak di dunia yang seakan-akan sangat bebas ini kadang malah bisa melukai diri sendiri. Tubruk sana tubruk sini, sebagai implementasi kasar langkah trial and error. Saking serunya kadang kita malah kebablasan, terlebih dengan anggapan betapa mudahnya berganti identitas di dunia maya. Kedewasaan dalam berkomunikasi di media sosial pun tak kunjung terbentuk, bahkan untuk orang yang dibilang berusia dewasa di kehidupan nyatanya sekalipun.

Informasi bak pedang bermata dua. Ia bisa mencerdaskan, tapi juga bisa mencederai. Memasuki era keterbukaan seperti saat ini, jumlah informasi yang muncul makin tak terbendung. Pun tak semua bisa dipastikan kebenarannya. Informasi-informasi palsu menyelinap diantara kebenaran. Memanfaatkan celah diantara fakta yang terungkapnya sebagian-sebagian. Informasi seperti inilah yang malah menyesatkan kita, bilamana tak pandai-pandai memilah dan bersabar. Celakanya, dewasa ini informasi malah dimanfaatkan sebagai alat propaganda. Informasi mentah bisa dipoles sana-sini hingga terkesan nyata. Bak serigala berbulu domba, informasi tersebut disebar untuk menguatkan atau melemahkan sesuatu atau malah seseorang. Diperparah dengan mudahnya membuat informasi palsu, bermodal comot gambar sembarang dan keahlian mengarang bebas. Kode etik jurnalistik kian ditinggalkan, tatkala informasi jadi pesanan atau hanya mengejar traffic semata. Kita, sebagai tempat dimana semua informasi tersebut bermuaralah yang kemudian terombang-ambing penuh ketidakpastian. Padahal kita perlu referensi, untuk mengambil posisi dan perspektif tatkala memandang suatu isu. Wajarlah bila kita jadi meragu saat mendengar atau melihat sesuatu, takut itu hanya kabar palsu. Sesungguhnya kawan, bersyukurlah bila kita masih diberikan anugerah untuk merasakan ragu. Sebuah pertanda bahwa nalar dan nurani kita belum membatu dan masih punya kesempatan untuk bertemu dan memastikan kebenaran.

Dalam Islam dikenal konsep tabayyun, yang secara bahasa berarti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya, alias klarifikasi. Perlu kebijaksanaan dalam menahan diri untuk tidak menyebarkan suatu informasi sebelum memastikan keabsahannya. Konsep inilah yang seharusnya dipegang teguh oleh pihak yang memang berperan sebagai portal informasi, maupun masyarakat luas sebagai penerima dari informasi tersebut. Proses klarifikasi bisa dilakukan secara aktif maupun pasif. Baik kita yang proaktif untuk memastikan kebenaran secara langsung ke TKP (jika memungkinkan) atau dengan membandingkan informasi suatu isu dari beberapa sumber yang berbeda. Kalau kedua hal tersebut tidak bisa kita lakukan, hendaknya bersabar menunggu semua fakta akan suatu isu terkuak. Jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu manakala informasi yang muncul baru seadanya. Ingat, OJO KESUSU.

Sayangnya, langkah klarifikasi itu makin ditinggalkan saat ini. Bisa jadi karena kita sudah keburu gatal ingin berkomentar atau memilih kubu saat berhadapan dengan suatu isu. Bisa juga karena energi kita sudah habis akibat terlalu kewalahan menerima derasnya arus informasi yang menerjang.

Informasi yang diterima akan membentuk perspektif kita dalam memandang suatu isu. Perspektif akan menentukan cara kita melakukan analisis sebab-akibat-solusi dari suatu isu. Perspektif jugalah yang akan membentuk sebuah standar penilaian, yang kemudian dipakai untuk melabeli diri sendiri dan orang lain. Yang menarik, suatu isu sebenarnya bisa dipandang secara multi-perspektif. Perbedaan perspektif akan menghasilkan analisis sebab-akibat-solusi yang berbeda dari isu tersebut. Perbedaan inilah yang kemudian dikolaborasikan untuk menghasilkan suatu pemahaman yang komprehensif nan ciamik. Namun terkadang kita lupa akan hal ini, karena keburu asyik melabeli orang yang tak satu perspektif dengan kita dengan berbagai macam titel berkonotasi negatif. Atau malah berusaha memaksakan perspektif kita kepada orang lain. Pokoknya kumaha aing weh.

Perspektif dasar dibentuk dari pengetahuan kita akan suatu isu. Informasi yang datang kemudian akan memperluas pemahaman kita, atau malah merubah penilaian kita terhadap suatu isu. Perubahan sendiri sebetulnya bukan hal yang buruk, selama memang ke arah yang lebih baik. Itulah mengapa kita harus memastikan bahwa semua informasi yang masuk kedalam otak kita sudah lengkap serta seluruhnya adalah sebuah kebenaran, baik itu fakta positif maupun sebaliknya. Barulah analisis bisa dilakukan, bukannya malah langsung lompat ke konklusi tanpa klarifikasi kelengkapan dan kebenaran masukan informasi terlebih dahulu. Salah kesimpulan bisa berabe. Bisa hancur dunia persilatan.

Akhir kata, mari kita tengok kasus Warteg Ibu Saeni yang ramai belakangan ini. Informasi muncul secara bertahap, dimana kesimpulan yang diambil tiap tahapnya terhadap kasus ini bisa berbeda. Perspektif yang digunakan pun akan memunculkan kesimpulan yang berbeda. Saya tidak akan membahas siapa yang benar, siapa yang salah, dan siapa yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini. Saya hanya mengajak teman-teman untuk ber-tabayyun saat memproses seluruh informasi yang beredar saat ini. Mengingat sudah makin melebarnya pembahasan dari kasus ini, luar biasa simpang siurnya berita yang beredar, serta keterbatasan kita untuk dapat memastikan secara langsung kondisi sesungguhnya di TKP. Mari bersabar. Ojo kesusu.

Advertisements

#12 Berbicara Dengan Tangan

IMG_3041
Fans Berat Public Speaking

Jika boleh jujur, saya sangat menikmati setiap kesempatan untuk berbicara di depan umum. Ada satu kesenangan tersendiri yang saya rasakan saat dapat menyampaikan ide yang saya miliki pada khalayak banyak, dengan cara dan tutur kata saya sendiri. Entah itu presentasi tugas di depan kelas semasa kuliah, menjadi Komandan Lapangan (DanLap) saat OS himpunan, sampai merasakan bagaimana serunya menjadi komika dan ber stand-up comedy sewaktu PK (dan sepertinya nge-bomb berat). Saya, yang terhitung agak sulit “panas” saat harus berinteraksi dalam grup yang lebih kecil, seperti diberikan corong untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran selama ini dan sulit untuk diutarakan. Rasanya seperti sebuah terapi relaksasi yang amat sangat sayang untuk dilewatkan.

Teman-teman yang pernah melihat saya berbicara bisa jadi memperhatikan sesuatu yang seperti jadi kebiasaan: Saya selalu menggerakkan tangan saya saat berbicara. Tak peduli itu saat berbicara satu dengan satu maupun saat berbicara di depan umum. Saya ingat betul pengalaman waktu SMP, dimana saat itu saya diejek teman sekelas karena terus menggerakkan tangan waktu berbicara di depan kelas. Sebelumnya saya memang tidak pernah sadar akan kebiasaan tersebut, karena terlampau asyik berbicara. Kebiasaan tersebut rupanya terbawa sampai dewasa. Pernah sewaktu menjadi DanLap dan berorasi, saya berbicara tentang buku angkatan. Tanpa sadar saya mengangkat tangan saya dan seolah-olah mengacungkan sebuah buku yang mana kalau orang lihat pasti bingung akan gestur yang saya lakukan. Konyol memang hal-hal itu jika diingat kembali, tapi ya saya anggap wajar saja. Tokh yang utama adalah saya berhasil menyampaikan pesan dan isi pikiran. Betul tidak?

Tapi lama-lama saya jadi penasaran juga. Kenapa orang menggerakkan tangannya saat berbicara? Apakah itu sebuah kebiasaan buruk? Atau malah jadi sebuah sinyal positif? Yuk kita coba cari tahu sama-sama!

Gerakan Tangan? Buat Apa Sih?

Gerakan tangan saat berkomunikasi pada dasarnya punya beberapa fungsi. Pertama, ia berfungsi untuk memberikan informasi saat suara tidak bisa menjangkau lawan bicara. Baik itu karena jarak atau karena keterbatasan kemampuan. Itulah mengapa kita menggunakan bahasa isyarat saat mengobrol dengan rekan-rekan tunawicara dan tunarungu. Gerakan-gerakan tersebut “dibakukan” sehingga saat kita melakukan gerakan tertentu orang bisa paham maksud kita tanpa perlu komunikasi secara verbal. Misalnya, saat kita mengacungkan jempol itu berarti kita menyampaikan suatu “persetujuan” atas apa yang disampaikan oleh lawan bicara alias OKE SIPH. Uniknya, gestur-gestur tersebut bisa punya makna yang berbeda di tiap negara. Misalkan gestur membuat huruf “O” dengan jempol dan telunjuk. Di Indonesia gestur tersebut diartikan dengan “Oke” untuk menyatakan persetujuan. Berbeda di Prancis dan Amerika Latin, dimana gestur ini malah dianggap sebagai sebuah penghinaan bagi lawan bicara.  Itulah mengapa kita harus berhati-hati saat akan menggunakan gestur tangan saat berada di negeri orang. Seperti kata pepatah, lain ladang lain belalang.

Kedua, gerakan tangan mampu membuat kita menjaga tempo bicara dan menemukan kata yang “hilang”. Seringkali saat kita berbicara ada saat dimana kita kehilangan kata yang diperlukan untuk mendefinisikan sesuatu. Saat otak kita berjuang mencari kata-kata tersebut, umumnya kita mengisi jeda tersebut dengan menggumamkan kata-kata kosong seperti “Mmm” atau “Err”, yang acapkali dianggap kurang profesional. Gerakan tangan berfungsi sebagai upaya bawah sadar untuk mengalihkan sebagian beban kerja di otak ke tangan. Gerakan tersebut juga upaya untuk membantu mengingat dengan cara mendeskripsikan mental image dari kata tersebut ke dalam sebuah “umpan” untuk memancing memori dari kata tersebut. Bisa jadi inilah alasan ilmiah kenapa rapper selalu menggerakkan tangannya saat beraksi: untuk menjaga tempo dan membantu mengingat lirik yang umumnya sangat panjang. MIND: BLOWN.

mind_blown
BLOWN. BLOWN. BLOWN AWAY.

Fungsi yang ketiga dari gerakan tangan adalah sebagai “bahasa kedua” yang dapat menjelaskan sesuatu yang terlewat dari penjelasan verbal. Gerakan-gerakan ninja yang dilakukan saat kita berbicara bisa jadi memberikan detail yang mempermudah lawan bicara untuk paham. Saat kita menjelaskan lokasi suatu objekt, misalnya. Seringkali tangan kita tanpa sadar bergerak untuk menunjukkan posisi relatif suatu objek terhadap objek lainnya, atau untuk menunjukkan kearah mana dan bagaimana suatu objek bergerak. Studi memang menunjukkan bahwa gerakan tangan lebih sering dilakukan saat kita berupaya menjelaskan suatu konsep spasial. Terkait juga dengan fungsi kedua, pada tahun 1996 pernah dilakukan studi dengan cara meminta subjek tes untuk menonton sebuah kartun dan menjelaskan kembali isi ceritanya. Yang menarik adalah saat menjelaskan cerita kartun tersebut tangan mereka diikat sehingga tidak bisa digerakkan sama sekali. Yang terjadi adalah mereka mengalami kesulitan saat harus menjelaskan sesuatu yang sifatnya spasial (seperti saat sang tokoh jatuh ke jurang) namun lancar saat menjelaskan hal-hal lainnya. Super sekali.

Fungsi yang terakhir adalah munculnya impresi positif bagi pembicara. Gerakan tangan saat berbicara dapat meningkatkan kepercayaan diri serta memberikan kesan tingkat intelektualitas yang lebih tinggi. Hal ini, menurut Annie Paul dari Business Insider, adalah sebagai implementasi dari “embodied cognition” yang merupakan kondisi dimana cara tubuh bekerja mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir. Kepercayaan dari pendengar pun dapat dibangun melalui gerakan tangan saat berbicara. Saat gestur seseorang tidak sesuai dengan kata-kata yang disampaikan, pendengar akan mempersepsikan (secara sadar maupun tidak sadar) bahwa sang pembicara tidak yakin atau malah sedang melakukan tipu muslihat. Itulah mengapa Dora The Explorer selalu bertanya lebih dari sekali pada kita saat sedang meminta tolong, karena dia bisa melihat ketidaktulusan saat kita sedang menjawab. Marilah kita mulai, semenjak saat ini, untuk menjawab dengan ikhlas saat Dora bertanya, “APA KALIAN BISA MELIHAT RUMAH NENEK?”.

hqdefault
Hmm.. Beneran liat? Ciyus? Miapah?

Lalu Untungnya Buat Saya Apa?   

Tanpa bermaksud untuk mengaku-ngaku, orang yang menggerakkan tangannya sewaktu berbicara dianggap memiliki ciri-ciri pemimpin yang karismatik dan bergairah. Gerakan tangan tersebut merupakan wujud dari antusiasme yang dimilikinya, dimana antusiasme yang berhasil dterjemahkan dengan baik akan mampu menarik simpati lawan pendengar. Carol Goman dari Forbes menyatakan bahwa orang yang berbicara sambil menggerakkan tangannya dipersepsikan sebagai pribadi yang hangat, energik, dan sangat mudah dipahami. Saat antusiasme tersebut berhasil dipahami dan ditularkan, timbullah apa yang kita sebut dengan “karisma”. Dipadukan dengan gairah yang menggebu saat menjelaskan sesuatu, maka tampaklah sosok seorang pemimpin berkualitas. Mari kita lihat sosok Presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Tutur katanya yang penuh semangat dan gerakan tubuhnya yang menggebu-gebu saat berorasi membuat semua pendengarnya ikut bergelora. Setiap gerakan tangannya menjadi penekanan bagi pesan-pesannya, memberikan dampak amplifikasi yang luar biasa yang sanggup membius siapapun. Sebagaimana juga dinyatakan oleh Goman, saat seorang pemimpin tidak menggunakan gestur dengan tepat itu menunjukkan bahwa mereka tidak memahami isu yang mereka bicarakan, tidak memiliki keterkaitan emosional dengan isu tersebut, bahkan tidak memahami dampak dari tindakan mereka tersebut terhadap pendengarnya.

Bagi para orangtua, jangan panik saat anak anda selalu menggerakkan tangannya saat berusaha menjelaskan sesuatu. Sebuah studi pada tahun 2015 menunjukkan bahwa anak usia 5 tahun yang menggerakkan tangannya saat berusaha menjelaskan sesuatu akan memiliki kemampuan yang sangat baik untuk menceritakan sesuatu secara terstruktur serta memiliki perbendaharaan kata yang lebih luas seiring bertambahnya usia. Studi lain juga menunjukkan bahwa anak yang belajar sambil menggerakkan tangannya saat belajar aljabar memiliki kemampuan mengingat tiga kali lebih baik dibanding teman-temannya yang tidak melakukan. Mereka juga mampu menguraikan informasi yang disimpannya dengan lebih baik. Luar biasa bukan? Tapi jangan sampai akhirnya malah memaksakan anak anda untuk menggerakkan tangannya, ya. Anak kan manusia juga, bukan wayang kulit.

#11 SEIN KIRI BELOK KANAN: PRAHARA RODA DUA DI JALAN RAYA

Yang Saya Temui

Sudah sekitar dua bulan belakangan ini hampir setiap hari saya rutin pulang pergi Bandung – Pangalengan. Jalan yang tak terlalu luas dan cenderung padat jadi alasan utama kenapa saya memilih motor sebagai moda transportasi utama. Lagipula perbandingan jarak dan waktu tempuh dari rumah menuju kantor masih masuk akal, cukup sekitar 1.5 jam untuk menempuh jarak + 50 km. Bandingkan bila harus kerja di Jakarta. Mungkin dengan waktu tempuh yang sama jarak yang bisa ditempuh hanya sepersekiannya. Tak heran tingkat stress pengguna jalannya cukup tinggi.

Saat memutuskan untuk menggunakan motor dalam jarak jauh, saya paham betul resikonya. Cuaca yang bisa berubah sepanjang perjalanan, paparan polusi udara yang lebih dahsyat, kondisi jalan yang buruk, hingga kemungkinan berpapasan dengan kendaraan-kendaraan besar macam bus dan truk. Itulah kenapa saya selalu memastikan akan mengemudi dalam kondisi terbaik: fisik sehat, pikiran tenang, perlengkapan berkendara komplit, dan kondisi motor sempurna. Kala di perjalanan pun saya berusaha menjadi pengguna jalan yang baik dengan menaati semua aturan lalu lintas yang berlaku. Seharusnya semua hal tersebut membuat perjalanan menjadi lancar. Tapi kenyataan berkata lain.

Setiap hari, saya berangkat dari wilayah ramai di pusat kota menuju daerah pedesaan di tengah kebun teh. Menghabiskan waktu minimal 3 jam di jalan raya setiap harinya, saya bertemu dengan sesama pengguna motor dengan berbagai macam jenis dan kelakuannya. Ada sesuatu yang selalu menggelitik saya: betapa mudahnya menemukan pengemudi motor yang tak mengindahkan aturan dan etika lalu lintas. Seandainya saya dapat 1000 rupiah untuk setiap pelanggaran yang saya temui, mungkin saya sudah bisa membeli apartemen mewah di Jakarta, sebelum harganya naik hari Senin. Berikut saya berikan daftar “kenakalan” yang rutin saya temui untuk anda di bawah ini.

  1. Pengemudi masih di bawah umur, yang jelas belum memiliki SIM.
  2. Pengemudi dan atau penumpang tidak memakai helm.
  3. Tidak menaati rambu dan marka lalu lintas yang berlaku.
  4. Membawa penumpang lebih dari kapasitas.
  5. Membawa kendaraan tanpa plat nomor.
  6. Membawa barang secara berlebihan.
  7. Kondisi motor yang tidak standar, minimal mengganti knalpot yang cenderung malah bikin bising.
  8. Lampu motor (baik lampu depan, rem belakang, maupun sein) yang seringkali tidak berfungsi.

Satu pola yang saya temukan adalah semua hal diatas semakin sering ditemui seiring semakin jauhnya lokasi suatu daerah dari pusat keramaian (baca: jarang ada razia oleh Polisi). Sebagai salah satu contoh paling ekstrem: di sekitar kantor saya yang isinya kebun teh dan sayur itu, saya BELUM PERNAH menemukan petani yang pergi bekerja naik motor yang keadaannya standar dan lengkap, memakai helm, dan membawa barang sesuai kapasitas. Lucunya, hal yang cenderung mirip pun sering kita temui di wilayah perumahan yang ada di pusat kota namun sedikit tertutup. Peristiwanya begini: seorang bapak membonceng anaknya naik motor tanpa menggunakan helm dengan dalih kalau tujuan mereka hanya ke minimarket depan perumahan yang tak seberapa jauh untuk membeli jajanan. Apakah tujuan petani dan bapak-sayang-anak tersebut salah? Tentu tidak. Apakah keduanya melanggar aturan lalu lintas? Tentu saja.

Yang Negara Ingini

Indonesia punya UU No 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Kewajiban pengguna sepeda motor di Indonesia sebetulnya tidak banyak-banyak dan susah-susah amat menurut UU tersebut. Kita hanya harus memenuhi hal-hal berikut:

  1. Memastikan motor yang digunakan laik jalan (Pasal 48);
  2. Tidak melakukan modifikasi yang membahayakan keselamatan berlalu lintas (Pasal 52);
  3. Menggunakan helm yang memenuhi standar nasional Indonesia (Pasal 57);
  4. Membawa STNK dan memasang plat nomor dari motor yang digunakan (Pasal 68);
  5. Memiliki Surat Izin Mengemudi jenis C (Pasal 77 dan 80);
  6. Mengendarai motor dengan tertib dan mengutamakan keselamatan (Pasal 105 dan 106);
  7. Menyalakan lampu utama sepanjang hari saat berkendara (Pasal 107);

Satu hal yang harus diingat karena banyak yang sering lupa: hukum punya asas persamaan, dimana semua orang harus diperlakukan sama didepan hukum tanpa membedakan suku, agama, pangkat, jabatan, profesi, dan sebagainya. Kewajiban di atas sudah seharusnya dipenuhi oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Sesungguhnya UU LLAJ dirancang untuk melindungi seluruh pengguna jalan dari potensi kecelakaan lalu lintas akibat kelalaian. Implementasi sederhananya: kita baru layak dan berhak turun berkendara bila seluruh kewajiban di atas sudah terpenuhi. Alasannya juga sederhana: saat ada kewajiban yang tidak terpenuhi, kita tidak memenuhi kualifikasi sebagai pengguna jalan. Saat itu pula keberadaan kita di jalan malah memunculkan ancaman bagi keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lain. Perlu contoh? Bayangkan betapa kagetnya saat kita tengah berkendara di malam hari dan tiba-tiba dikejutkan oleh keberadaan pengendara motor yang tak menyalakan lampu sama sekali di depan kita. Bayangkan betapa besarnya potensi terjadinya kecelakaan seandainya kita terlambat melakukan antisipasi. Bayangkan besarnya kerugian yang mungkin muncul dari kecelakaan tersebut. Sudah kapok melanggar lalu lintas?

Yang Kerap Terjadi

Sudah jadi fitrah manusia bahwasanya kita selalu berusaha mencapai tujuan dengan seminimnya usaha. Keinginan tersebut celakanya kerap kali jadi pendorong untuk melakukan pelanggaran. Berkendara melawan arus dengan alasan waktu tempuh lebih cepat, tak pakai helm karena merasa jarak tempuh dekat, hanyalah sebagian dari sekian banyaknya pembenaran yang tidak tepat yang kerap dilontarkan saat tertangkap basah tengah melanggar. Yang menggelikan adalah respon dari sebagian pelanggar tersebut saat dikonfrontasi: mereka malah marah karena merasa hak mereka diganggu. Aneka jurus silat lidah pun keluar, dari mulai menyatakan bahwa pelanggaran tersebut sudah jadi hal yang lumrah sampai balik menyalahkan sang konfrontir karena tak menegur orang lain. “Daripada saya malu karena ketahuan salah, saya buat saja dia merasa berdosa karena mengganggu hajat hidup saya.”, pikir sang pelanggar. Istilah bekennya, kagok edan. Sebuah langkah bela diri yang justru semakin menunjukkan ada sesuatu yang salah dengan sikap berlalu lintas dari sebagian diantara kita.

Allport mendefinisikan sikap sebagai suatu kesiapan mental dan saraf yang tersusun melalui pengalaman respon individu terhadap semua objek atau situasi yang berhubungan dengan objek itu. Sikap sendiri terbagi menjadi tiga komponen, yaitu kognitif (pengetahuan akan apa yang benar bagi objek sikap), afektif (masalah emosional subjektif terhadap objek sikap), dan konatif (perilaku atau kecenderungan berperilaku berkaitan dengan objek sikap yang dihadapi). Sikap kita dibangun dari seluruh pengalaman, proses belajar, proses sosialisasi, dan pengaruh kebudayaan yang dialami. Itulah mengapa hasrat melanggar lalu lintas cenderung “menular”. Fakta lapangan membuktikan, pelanggaran kerap dilakukan secara “bergotong-royong”. Keberanian untuk melakukan pelanggaran bisa timbul saat melihat orang lain melalui “pengalaman” yang sama untuk mengejar sebuah “kemudahan”,  hingga akhirnya sesuatu yang salah dianggap lumrah dan menjadi sebuah nilai “kebenaran” baru. Sayangnya, keberanian yang ngaco itu baru bisa hilang setelah dihadapkan pada sebuah ancaman hukuman yang nyata. Tengoklah kejadian baru-baru ini, saat segerombolan pengendara motor menjebol pembatas busway karena takut ditilang akibat melanggar oleh polisi yang sudah bersiaga. Sikap disiplin itu baru tumbuh dari sisi emosi, belum dibarengi dengan pemahaman yang baik akan apa yang benar. Tak heran sifatnya masih hilang timbul, tergantung ada polisi atau tidak. Seakan-akan keselamatan diri masih lebih rendah prioritasnya dibanding lembar-lembar rupiah yang harus keluar sebagai sanksi dari sebuah pelanggaran.

Yang Malah Ditakuti

Polisi memang jadi figur menakutkan bagi para koboi pelanggar. UU LLAJ bagakan pil pahit yang bisa bikin meriang kalau diminum, operasi tertib lalin bagai ruang operasi yang justru bikin tambah sakit. Sebuah ironi memang, kala melihat orang berbondong-bondong memutar balik saat melihat ada razia. Sebegitu tidak siapkah teman-teman kita untuk turun ke jalan raya? Seminim itukah pengetahuan tentang disiplin berlalu lintas? Siapa yang harusnya melakukan edukasi terkait hal itu?

Menurut UU LLAJ Pasal 7, Kepolisian Negara Republik Indonesia-lah yang berkewajiban untuk memberikan pendidikan berlalu lintas. Sudah banyak program yang dilaksanakan, baik melalui metode sosialisasi, seminar, hingga pendidikan lalu lintas bagi anak-anak. Jangan salah, razia pun termasuk sebagai salah satu metode pendidikan bagi masyarakat. Walaupun malah berujung dihindari muridnya laksana ruang kelas yang diisi oleh guru galak. Padahal muridnya yang salah karena belum bikin PR. Kan lucu.

Efektifkah upaya-upaya tersebut untuk mengurangi angka pelanggaran lalu lintas? Indonesia Traffic Watch (ITW) malah menilai razia sebagai suatu kegiatan tak efektif, yang malah jadi ajang meraup pungli. Razia dianggap sebagai sebuah langkah yang tak perlu, sebab penertiban lalu lintas sudah menjadi tugas rutin Polantas. Pun Kepolisian saat ini bak Hercules yang tengah bertarung melawan monster Hydra, potong satu kepala malah muncul dua kepala baru. Jumlah pelanggar yang dikenai sanksi malah terus bertambah, itu pun baru sepersekian dari jumlah total pelanggaran yang terjadi setiap harinya. Jika jumlah aslinya bak gunung es yang tersembunyi, entah berapa lama lagi kapal Titanic yang isinya orang-orang taat aturan akan menabrak dan hilang tenggelam. Masihkah mau hanya berharap pada Polisi untuk merubah sikap tidak disiplin dalam diri? Padahal kontrol terbesar ada pada diri kita pribadi. Nyawa pun milik sendiri. Cuma satu, lagi.

Yang Bisa Direnungi

Saudara-saudaraku sekalian, mari kita tanamkan satu hal dalam pikiran kita. SEPEDA MOTOR TIDAK SAMA DENGAN SEPEDA GOWES. Saat kita memutuskan untuk naik status menjadi pengguna motor, pahamilah bahwa akan datang pula sepaket tanggung jawab dan kewajiban yang harus kita patuhi, bukan cuma soal main gas-rem-gas-rem saja. Kita akan bergerak dalam kerangka kecepatan yang berbeda dengan sepeda gowes, ancaman bagi keselamatan kita pun naik. Saat ini, kecelakaan sudah dianggap sebagai salah satu permasalahan kesehatan masyarakat. Lebih dari 3000 orang meninggal tiap harinya di dunia akibat kecelakaan, dan 80% dari jumlah tersebut terjadi karena faktor disiplin berlalu lintas dari sang pengendara. Buang jauh-jauh pikiran untuk tidak memakai helm sekalipun tujuan kita dekat, karena aspal tetap saja keras. Tidak ada ceritanya jalan dibikin dari Nutr*jell. Kepala kepentok ya benjol. Kalau beruntung itu juga.

Sadari bahwa semua keputusan yang kita ambil akan mempengaruhi hidup orang lain. Saat kita memutuskan untuk melanggar lampu lalu lintas, kita mungkin menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Saat kita memberikan motor bagi sang anak yang masih di bawah umur atas dasar alasan apapun, ingatlah bahwa anda justru malah membahayakan nyawa anak kita. Orangtua mana yang tega membiarkan anaknya celaka. Berkendara itu bukan soal tiba dengan cepat. Berkendara itu soal tiba dengan selamat.

Bandung, 3 Juni 2016

#10 Sebuah Cerpen: Gila

GILA

Oleh: Pandu Wicaksono (@panduwicaksono)

“Ugh..”, kubuka perlahan mataku. Seberkas sinar matahari berhasil memaksaku untuk bangun. Aku termenung sejenak. Jiwaku belum terkumpul sepenuhnya, sepertinya. Pandanganku masih belum bisa fokus, kepalaku masih sedikit berputar. Dua botol bir sialan itu sukses membuatku lemas, sepertinya.

Aku mencoba untuk bangun. Apa daya, aku cuma bisa berdiri sekejap. Terpaksa aku duduk di sisi kasur. Kembali aku termenung. Mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi tadi malam. Apa yang membuatku mau menenggak dua botol cairan haram bajingan itu. Untuk pertama kalinya.

Aku. Kehilangan. Dirimu. Ya, dirimu. Dirimu yang selalu aku rindu. Dirimu yang selalu aku tunggu. Dirimu yang selalu aku kagumi. Dirimu yang selalu bisa buatku tersenyum. Dirimu yang selalu tampak indah. Dirimu yang membuat duniaku tampak lebih indah. Dirimu yang bisa membuatku mematikan setan sembilan-senti-berkepala-merah yang awalnya selalu terselip di bibirku. Dirimu yang benar-benar merubah diriku.

Semuanya masih terasa indah, sampai tadi malam. Dan seharusnya jadi makin indah, kalau saja rencanaku berjalan sempurna. Mawar ini tak akan jadi sia-sia. Cincin itu tak akan berakhir di kloset. Anggur itu harusnya jadi saksi bisu awal kisah kita. Harusnya.

Ah, semakin aku mencoba mengingat, kepalaku makin sakit. Tapi aku tak mau berhenti. Sakit di kepalaku ini satu-satunya hal yang bisa mengalahkan sakit di hati. Baru kali ini aku begini. Gila. Benar-benar gila.

Aku ingat, tepat jam tujuh tadi malam aku berangkat ke rumahmu. Senyum tak bisa lepas dari bibirku. Otakku penuh dengan hal-hal bahagia yang kupikir akan kita lakukan, selepas malam ini. Mawar itu tergeletak di kursi mobil, sembari samar-samar menyerbakkan aroma wangi, yang menggoda hidungku. Cincin bermata berlian itu pun masih tersimpan manis, di dalam kotak kecil merah, didalam sakuku. Sebuah kejutan besar untuk orang paling spesial, gumamku. Aku kembali tersenyum kecil.

Senyum itu masih ada. Saat kulihat bendera kuning kecil di depan kompleksmu. Ah, mungkin itu tetanggamu, pikirku. Minggu lalu kau sempat bercerita, ada tetanggamu yang baru saja kena serangan jantung. Mungkin dia yang berpulang. Atau, mungkin partai berlambang beringin itu sedang kampanye di kompleksmu, hahaha, tawaku dalam hati.

Senyum itu mulai memudar, saat kulihat banyak mobil terparkir di depan rumahmu. Jantungku mulai berdegup kencang. SIAPA? Yang terlintas dalam otakku saat itu, ayahmu. Tapi segera kuhilangkan pikiran itu. Gila, kenapa aku malah berpikir seperti itu pada calon mertuaku. Tapi tetap saja, aku masih tak punya prasangka apa-apa. Kuputuskan untuk segera parkir dan segera menuju ke rumahmu.

Rumahmu ramai sesak. Banyak yang tak kukenal. Ada beberapa temanmu, sebenarnya. Dan mereka menangis. Hey, kenapa mereka? Jujur saja, aku tak akan menangis sampai seperti itu jika orangtua temanku berpulang. Aku tak mau bertanya pada mereka, lebih baik aku cari tahu sendiri. Aku bergegas masuk kedalam rumah.

Didalam, aku melihat ibumu. Ibumu menangis kencang. Histeris. Dan ayahmu disebelahnya, mencoba menenangkannya. TUNGGU. Ayahmu? Gila. Ini gila. LALU SIAPA? Siapa yang terbujur kaku dibalik kain batik itu? 

“Sabar Bu, sabar. Ini cobaan dari Tuhan, Bu. Tuhan menitipkan Ayu pada kita, dan kini Dia mengambil kembali apa yang memang milik-Nya.”, kata ayahmu untuk menenangkan ibumu.

OKE.

INI.

BENAR.

BENAR.

GILA.

Malam ini harusnya aku memberikan mawar ini padamu. Malam ini harusnya kau mengenalkan aku pada orangtuamu. Malam ini harusnya aku langsung menyatakan pada orangtuamu, bahwa aku akan meminangmu. Malam ini harusnya cincin ini sudah terselip manis di jari manismu. Malam ini harus nya tak begini. Malam ini harusnya berakhir indah.

Sudah cukup. Aku tak mau ada disini lama-lama. Cukup sudah. Aku tak mau lihat tubuhmu. Aku tak mau tahu kenapa kamu bisa terbujur kaku disitu. Yang aku mau, dan aku lakukan sekarang, adalah pergi secepatnya dari sini. Pergi sejauhnya, melarikan diri dari realita. Ini terlalu gila.

Kuinjak pedal gas sedalam mungkin. Melarikan diri sejauh mungkin. Mataku buta. Pikiranku gelap. Aku tak tahu mau kemana. Satu yang aku tahu. Aku baru saja dicabik-cabik. Dicabik-cabik oleh monster bernama takdir. ARGH!! Gila! Semua umpatan keluar dari bibirku. Entah kutujukan pada siapa. Dadaku sesak, sesuatu seperti meledak didalam sana. Itu hatiku. Hancur lebur.

Dan entah bagaimana, satu jam kemudian aku berakhir disini. Di sebuah bar di tengah kota. Aku ingat, bagaimana aku duduk di meja bar, kepalaku tertelungkup. Kemejaku basah oleh keringat dan air mata. Boys don’t cry, kata The Cure. Ah, omong kosong!! Aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menghentikan rasa sesak di dadaku ini selain dengan membiarkan air mataku mengalir keluar. Aku tak peduli kata orang. Persetan mereka semua.

Aku baru saja dikalahkan. Dikalahkan lewat takdir. Tuhan yang mengalahkanku. Selamat! Kau sudah berhasil menghancurkan hidupku. Disaat aku mulai merasakan nikmatnya hidup, Kau hilangkan itu semua. Teganya Engkau! Apa salahku? Apa salah Ayu? Kenapa dia yang Kau ambil? Kenapa bukan yang lain? Kenapa bukan koruptor-koruptor bangsat itu yang kau ambil nyawanya? Kenapa bukan orang-orang sok suci, yang pakai nama-Mu sebagai pembenaran, yang kau ambil nyawanya? Kenapa bukan maling-maling, pembunuh-pembunuh, pemerkosa-pemerkosa itu yang kau ambil nyawanya? Kenapa Ayu? Kenapa sekarang? Kenapa tidak nanti, saat kami sudah merasakan apa itu kebahagiaan bersama? Kenapa tidak nanti, setelah kesepuluh anak kami lahir, tiga puluh cucu kami lahir? Kenapa? Kenapa Tuhan?

Sepertinya minuman setan ini yang membuat pikiranku jadi makin kacau begitu. Ah, peduli amat. Yang penting aku punya sesuatu utuk disalahkan. Atas kekalahanku. Atas kehilanganku.

Kembali kutenggak minumanku. Lagi dan lagi. Dan tahu-tahu aku terbangun disini, di apartemenku. Entah bagaimana caranya aku bisa sampai kesini dengan selamat. Terimakasih Tuhan.

Ah, mengingat ini semua kembali membuat dadaku sesak. Kekalahan besar ini menyeruak lagi. Mencoba mencari udara segar, kubuka jendela apartemenku. Mendadak terlintas sesuatu di otakku.

Hey, mungkin melompat dari ketinggian ini bisa membawaku padamu.

#9 Menyanyikan Ketertarikan

MENYANYIKAN KETERTARIKAN

Kita adalah dua insan di orkestra milik Tuhan
Berharmoni di lagu yang berbeda
Senyum indahmu seakan jadi intro dari kisah
Manisnya interlude di kala masa suram melanda
Sesungguhnya cinta adalah reffrain dari hidup
Senantiasa dinanti dan jadi bagian terbaik
Rasaku padamu bagaikan prima vista, muncul tanpa dinyana
Jika memang senada, bolehkah kita berlagu yang sama?

Auckland, 11 Maret 2015

#8 Anomali

ANOMALI

Tubuhnya menjerit
Minta dilepas sakitnya
Hatinya mengelupas
Dikuliti perlahan sahabatnya
Sudah lama begitu, katanya

Tabung oksigen menyambung detak
Lidah bergerak sajikan pengakuan
Darah sendiri balikkan hati
Yang didapat jauh dari yang diberi

Semalam kami bingung
Hendak kemana mencari jalan
Yang dimau malah terbakar

Sebelum terjadi yang dihindari
Sebuah doa kami ucap:

“Semoga cepat sembuh.”

Auckland, 4 Maret 2015

#7 Jikalau

JIKALAU

Menatap gadis di matanya
Dan kurasakan teduhnya semesta

Melukis gadis di senyumnya
Dan kutemukan mahakarya terindah

Mencintai gadis di hatinya
Dan kujadikan rumah terhangat

Mendampingi gadis di bahagianya
Dan kusaksikan sempurnanya karunia-Mu

Aku suka melangkah menuju terang.

Auckland, 3 Maret 2015