#17 Sebuah Puisi: Cinta Mati

#17 Sebuah Puisi: Cinta Mati

CINTA MATI

Ceritakan padanya kisah
Jasadnya seorang lelaki
Yang mati tenggelam
Pada air mata kekasihnya!

Rautnya beku berair pilu
Bekas memelas pada sang gadis
Mintakan barang sekejap ketenangan;
Telapak kakinya betapa kasar
Sisa diseret penuh paksa
Atas nama nyatanya ego;
Bola matanya hilang
Rusak dikoyak cabik kenaifan
Cinta itu mestilah buta;
Hilang pula hatinya
Ada bekas gerogotan perlahan
Pun jahitan dari patah berulang.

Di saku celananya yang kedodoran
Secarik catatan kumal ditemukan:
“Kebumikan aku pada gelapnya mata kekasihku.”

Dan kami lakukan
Lalu kembali pada hidup yang biasa.

Bandung, 11 Agustus 2016

#16 Sebuah Puisi: Mana Saya Tahu

#16 Sebuah Puisi: Mana Saya Tahu

Mana Saya Tahu

 

Kalau kamu lebih suka

Disapa tanpa basa-basi

Mana saya tahu

 

Kalau kamu amat takut

Kala gemparnya petir malam

Mana saya tahu

 

Kalau kamu pernah punya

Kisah kasih nan kesah

Mana saya tahu

 

Kalau kamu rindu bertatap

Pada riuhnya debur ombak

Mana saya tahu

 

Kalau kamu jadi kelu

Saat harus bertutur marah

Mana saya tahu

 

Kalau kamu dulu kehilangan

Hari bahagia karena terlupa

Mana saya tahu

 

Kalau kamu berubah benci

Bila dipuji manis

Mana saya tahu

 

Saya cuma tahu

Saya tidak tahu

Saya mau tahu

 

Bisa kah?

 

Bandung, 4 Agustus 2016

#15 Sebuah Puisi: Sajak Kaus Kaki Bolong

#15 Sebuah Puisi: Sajak Kaus Kaki Bolong

SAJAK KAUS KAKI BOLONG

 

Padahal aku sudah bilang

Bapakmu sudah bilang

Ibumu sudah pula bilang

 

Sudah aku jangan dipakai lagi.

 

Masaku diganti sudah lewat

Seribu hari kalau tak salah ingat

Kakimu jadi banyak luka

Kamu malah tertawa

Bilang itu bikin tambah kuat

 

Aku cuma kaus kaki

Dibikin buat diinjak-injak

Aku dulu bagus pun percuma

Masih tetap diinjak-injak

Sudah bolong begini kamu masih pakai

Apa memang kamu suka menginjak-injak?

 

Kalau aku jadi orang

Kamu jadi kaus kaki bolong

Sama bingungnya kah kamu denganku?

 

Bandung, 29 Juli 2016

#14 Sebuah Prosa: Kemana Kartu Pos

Taman-mailbox-Rumah-kotak-pos

KEMANA KARTU POS

Masih belum tiba.

Menatap kosongnya kotak merah itu lalu menghela nafas panjang kini jadi caraku tiap memulai hari. Dinginnya udara pagi mengebaskan wajah, membekukan raut kecewa karena hari ini terlalu berharap. Kututup perlahan si kotak pos. Atau setengah dibanting, aku lupa. Yang kuingat cuma secuil gumaman pelan, “Esok pasti tiba. Pasti.”.

Ekspektasi itu candu.

Garis wajahmu pun candu.

Detik ini, aku meregang rindu.

Bandung, 5 Juni 2016

#9 Menyanyikan Ketertarikan

MENYANYIKAN KETERTARIKAN

Kita adalah dua insan di orkestra milik Tuhan
Berharmoni di lagu yang berbeda
Senyum indahmu seakan jadi intro dari kisah
Manisnya interlude di kala masa suram melanda
Sesungguhnya cinta adalah reffrain dari hidup
Senantiasa dinanti dan jadi bagian terbaik
Rasaku padamu bagaikan prima vista, muncul tanpa dinyana
Jika memang senada, bolehkah kita berlagu yang sama?

Auckland, 11 Maret 2015

#8 Anomali

ANOMALI

Tubuhnya menjerit
Minta dilepas sakitnya
Hatinya mengelupas
Dikuliti perlahan sahabatnya
Sudah lama begitu, katanya

Tabung oksigen menyambung detak
Lidah bergerak sajikan pengakuan
Darah sendiri balikkan hati
Yang didapat jauh dari yang diberi

Semalam kami bingung
Hendak kemana mencari jalan
Yang dimau malah terbakar

Sebelum terjadi yang dihindari
Sebuah doa kami ucap:

“Semoga cepat sembuh.”

Auckland, 4 Maret 2015

#7 Jikalau

JIKALAU

Menatap gadis di matanya
Dan kurasakan teduhnya semesta

Melukis gadis di senyumnya
Dan kutemukan mahakarya terindah

Mencintai gadis di hatinya
Dan kujadikan rumah terhangat

Mendampingi gadis di bahagianya
Dan kusaksikan sempurnanya karunia-Mu

Aku suka melangkahย menuju terang.

Auckland, 3 Maret 2015