#20 Gelisah Menanti

#20 Gelisah Menanti

Bolak-balik ia memegang handphonenya. Tapi tak dibuka.

Kemudian dilempar. Diambil lagi.

Tak lama dilempar lagi. Begitu terus.

Ia sedang gelisah.

Pesan yang ia kirim pada sang pujaan hati tak kunjung dibalas.

“Mungkin ia sedang sibuk.”

“Mungkin HP-nya ditinggal pergi.”

Jam demi jam berlalu. Berganti hari.

Masih tak ada jawaban.

Masih gelisah.

Putus asa melawan ketidakpastian, dicarilah pengalihan.

Dibukalah Instagram, dicermati isi linimasa satu-satu.

Sampai kemudian terhenyak.

Ada unggahan dari sang pujaan hati.

Satu. Dua. Tiga.

“Kenapa bisa dia punya waktu untuk ini?”

“Tapi pesanku tak dibalas.”

Tega.

Kejadian diatas, pernah saya alami. Anda mungkin pernah mengalaminya juga. Dan jadi terasa lebih pahit saat anda kemudian buka kembali pesan terakhir yang anda kirim via aplikasi chatting.

Rupanya sudah dibaca. Tapi cuma dibaca.

Generasi kita memang generasi patah hati. Punya lebih banyak cara dibuat patah hati, maksudnya. Kiriman pesan yang hanya dibaca pun bisa patah hati. Maklum, sudah keburu punya ekspektasi tinggi.

Teknologi yang makin maju, bikin pertukaran informasi jadi makin mudah. Makin cepat dan makin lancar pertukaran informasi antara dua insan, makin tidak siap kita saat harus terhenti tiba-tiba. Apalagi tanpa alasan yang jelas. Masalahnya: kita jadi tahu manakala kita diabaikan, detik itu juga.

Siapa yang lalu tak jadi gelisah.

“Saya ini salah apa. Kenapa kamu tak balas pesan saya. Padahal terakhir tadi masih tertawa bersama. Apa saya menyakiti perasaan kamu? Apa saya sudah jadi orang membosankan? Atau kamu memang tak tertarik sama saya?”

… dan sejuta tanya lainnya dalam kepala. Yang mungkin tak pernah ketemu jawabnya. Karena gengsi kalau mau ditanyakan. Takut dikira posesif. Nanti malah makin menjauh pula.

Tapi saya paham, kok. Hidup di kubangan ekspektasi orang memang sulit. Harus pandai-pandai memilih yang mana yang mesti dipenuhi. Salah-salah nanti ada yang patah hati. Tapi kenapa kamu memilih untuk tidak memenuhi ekspektasi saya?

Hush, dasar egois kamu.

Eh, saya.

Advertisements

#13 Ojo Kesusu

#13 Ojo Kesusu

Sebagai pembukaan, mari kita simak sebuah surat yang cukup menarik dibawah ini. Sesuai judul, ojo kesusu alias jangan  buru-buru.

TUTORIAL PERANG DI FB

Oleh: Anonim

2016 adalah tahunnya perselisihan. Bagi kaum melek teknologi (atau at least yang meletet dikit), media sosial jadi arena tempurnya. Seru deh. Semua punya kubu yang dijagokan, (hampir) semua punya argumen sendiri. Bagi yang tak punya argumen, Facebook punya senjata maut buat kita. Sebuah fitur maha dahsyat yang bernama “Share”. Fitur ini bak senapan yang kencangnya minta ampun buat melumpuhkan lawan. Siapa sih yang bisa berkutik kalau dihadapkan dengan fakta yang aktual, tajam, terpercaya?

Layaknya pemburu handal, cari peluru itu haruslah yang tokcer dan sesuai dengan target buruan. Targetmu korban pencitraan seorang politisi? Paling mantap ya di-dor pakai kompilasi kelakuan buruk sang politisi. Biar sembuh. Sedang berhadapan sama yang ngeyel soal toleransi? Asyiknya ya disikat pakai kombinasi logika – ayat suci – pendapat ahli agama. Biar sadar.

Ngomong-ngomong, tidak perlu berterimakasih kok kalau kamu sudah sembuh dan sadar. Niat kami tulus ingin membantu.

Situs-situs berita online jadi acuan buat mencari amunisi sehari-hari. Tapi harap maklum, kami orang sibuk, waktu luang kami tidak banyak. Suka tidak keburu kalau harus baca seluruh isi beritanya. Tapi saya yakin kok, semua kantor berita memegang teguh kode etik jurnalistik. Judul pasti sesuai dengan isinya. Isinya pasti hasil dari investigasi mendalam bermodal darah, keringat, dan air mata. Mana mungkin sih, berita palsu berani disebar? Ya tokh? Ya tokh? Waspada situs abal-abal, katamu? Apa itu? Kami tahunya bala-bala. Eh, tapi tahu kok bala-bala? Kan tempe. Intinya mah, asal beritanya sesuai dengan hati nurani saya, pasti sesuai dengan hati nurani kamu. Kalo enggak… ya kamunya aja bebal itu mah. Kzl.

Enaknya perang di dunia maya itu kami bisa jadi lebih percaya diri. Aslinya kan kami pemalu. Nulis panjang-panjang nggak akan ada yang protes. Share banyak-banyak nggak akan ada yang protes. Kalo ada yang protes, itu namanya menolak kebenaran. Serunya lagi, disini bisa hit and run gitu. Kayak lagi gerilya. Jangan salah, itu bukan tindakan pengecut. Itu namanya taktik. Makanya ya saya juga maklum kalau kamu pakai strategi itu. Namanya juga perang.

Sebelum saya mohon pamit, izinkan saya menyampaikan terimakasih kepada beberapa pihak.

Pertama, terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang mau repot-repot share artikel-artikel menarik lebih dulu, jadi saya tinggal reshare aja. Sudah saya baca kok thumbnail dan captionnya. Sangat informatif.

Kedua, terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang kreatif luar biasa yang sudah bantu bikin meme-meme (ini bacanya mim atau me-me sih?) cerdas. Mantap banget nih buat jadi senjata kalau ketemu lawan yang bebal, jadi nggak perlu nulis panjang-panjang. Sedikit saran, mbok ya resolusinya digedein gitu lain kali, ini gambarnya pecah melulu. Kasian nanti lawan debat saya nggak bisa baca.

Ketiga, terima kasih kepada pencipta FB. Tanpa kamu, mau dikemanakan waktu luang saya?

Keempat, terima kasih kepada rekan-rekan jurnalis di semua situs berita panutan saya. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup, ya. Kalian pasti capek karena harus melakukan investigasi terus-menerus, wawancara sana-sini, dan nulis artikel banyak-banyak.

Akhir kata, sampai kita berjumpa lagi. Di Facebook aja ya.

PS: Selanjutnya kami mau bikin tutorial menaklukkan Samyang Challenge.

Bukan hal ganjil lagi bagi kita untuk menemui oknum-oknum dengan perilaku bermedia sosial seperti diatas. Media sosial yang awalnya kita harapkan bisa jadi sarana untuk bercengkrama dengan orang terdekat, malah berubah jadi medan perang yang kian hari kian memanas. Semua hal bisa jadi perkara, dari yang sederhana seperti pilih #teamCap atau #teamIronman sampai isu-isu sensitif macam politik dan agama. Masih segar di ingatan kita bagaimana dahsyatnya perang argumen di dunia maya saat Pemilu 2014 lalu. Dunia maya seakan-akan terbagi dua, semua merasa capres idolanya adalah yang paling benar. Pertikaian malah terjadi di tingkat grass root. Bukannya beradu gagasan maupun rencana kedepan, malah sibuk mencari keburukan dari capres sebrang. Mirisnya, yang dulunya kawan bisa jadi lawan. Hanya karena gontok-gontokan di laman FB, silaturahmi malah jadi putus. Awalnya saling mengagungkan capres idaman, malah berakhir dengan menganjing-anjingkan teman yang tak sepaham. Padahal kedua capresnya malah adem ayem saja.

Kita adalah generasi pertama yang memasuki dan merasakan era keterbukaan informasi. Mulai dari anak kecil sampai yang sudah lanjut usia, semua bisa mendapatkan dan membagikan informasi dengan bermodal klik semata. Keran informasi bagai dibuka tanpa batas, aksesnya pun semakin mudah. Layaknya individu yang masuk ke dalam lingkungan baru, kita masih dalam tahap meraba-raba untuk mencari batas etika dari dunia maya. Bergerak di dunia yang seakan-akan sangat bebas ini kadang malah bisa melukai diri sendiri. Tubruk sana tubruk sini, sebagai implementasi kasar langkah trial and error. Saking serunya kadang kita malah kebablasan, terlebih dengan anggapan betapa mudahnya berganti identitas di dunia maya. Kedewasaan dalam berkomunikasi di media sosial pun tak kunjung terbentuk, bahkan untuk orang yang dibilang berusia dewasa di kehidupan nyatanya sekalipun.

Informasi bak pedang bermata dua. Ia bisa mencerdaskan, tapi juga bisa mencederai. Memasuki era keterbukaan seperti saat ini, jumlah informasi yang muncul makin tak terbendung. Pun tak semua bisa dipastikan kebenarannya. Informasi-informasi palsu menyelinap diantara kebenaran. Memanfaatkan celah diantara fakta yang terungkapnya sebagian-sebagian. Informasi seperti inilah yang malah menyesatkan kita, bilamana tak pandai-pandai memilah dan bersabar. Celakanya, dewasa ini informasi malah dimanfaatkan sebagai alat propaganda. Informasi mentah bisa dipoles sana-sini hingga terkesan nyata. Bak serigala berbulu domba, informasi tersebut disebar untuk menguatkan atau melemahkan sesuatu atau malah seseorang. Diperparah dengan mudahnya membuat informasi palsu, bermodal comot gambar sembarang dan keahlian mengarang bebas. Kode etik jurnalistik kian ditinggalkan, tatkala informasi jadi pesanan atau hanya mengejar traffic semata. Kita, sebagai tempat dimana semua informasi tersebut bermuaralah yang kemudian terombang-ambing penuh ketidakpastian. Padahal kita perlu referensi, untuk mengambil posisi dan perspektif tatkala memandang suatu isu. Wajarlah bila kita jadi meragu saat mendengar atau melihat sesuatu, takut itu hanya kabar palsu. Sesungguhnya kawan, bersyukurlah bila kita masih diberikan anugerah untuk merasakan ragu. Sebuah pertanda bahwa nalar dan nurani kita belum membatu dan masih punya kesempatan untuk bertemu dan memastikan kebenaran.

Dalam Islam dikenal konsep tabayyun, yang secara bahasa berarti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya, alias klarifikasi. Perlu kebijaksanaan dalam menahan diri untuk tidak menyebarkan suatu informasi sebelum memastikan keabsahannya. Konsep inilah yang seharusnya dipegang teguh oleh pihak yang memang berperan sebagai portal informasi, maupun masyarakat luas sebagai penerima dari informasi tersebut. Proses klarifikasi bisa dilakukan secara aktif maupun pasif. Baik kita yang proaktif untuk memastikan kebenaran secara langsung ke TKP (jika memungkinkan) atau dengan membandingkan informasi suatu isu dari beberapa sumber yang berbeda. Kalau kedua hal tersebut tidak bisa kita lakukan, hendaknya bersabar menunggu semua fakta akan suatu isu terkuak. Jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu manakala informasi yang muncul baru seadanya. Ingat, OJO KESUSU.

Sayangnya, langkah klarifikasi itu makin ditinggalkan saat ini. Bisa jadi karena kita sudah keburu gatal ingin berkomentar atau memilih kubu saat berhadapan dengan suatu isu. Bisa juga karena energi kita sudah habis akibat terlalu kewalahan menerima derasnya arus informasi yang menerjang.

Informasi yang diterima akan membentuk perspektif kita dalam memandang suatu isu. Perspektif akan menentukan cara kita melakukan analisis sebab-akibat-solusi dari suatu isu. Perspektif jugalah yang akan membentuk sebuah standar penilaian, yang kemudian dipakai untuk melabeli diri sendiri dan orang lain. Yang menarik, suatu isu sebenarnya bisa dipandang secara multi-perspektif. Perbedaan perspektif akan menghasilkan analisis sebab-akibat-solusi yang berbeda dari isu tersebut. Perbedaan inilah yang kemudian dikolaborasikan untuk menghasilkan suatu pemahaman yang komprehensif nan ciamik. Namun terkadang kita lupa akan hal ini, karena keburu asyik melabeli orang yang tak satu perspektif dengan kita dengan berbagai macam titel berkonotasi negatif. Atau malah berusaha memaksakan perspektif kita kepada orang lain. Pokoknya kumaha aing weh.

Perspektif dasar dibentuk dari pengetahuan kita akan suatu isu. Informasi yang datang kemudian akan memperluas pemahaman kita, atau malah merubah penilaian kita terhadap suatu isu. Perubahan sendiri sebetulnya bukan hal yang buruk, selama memang ke arah yang lebih baik. Itulah mengapa kita harus memastikan bahwa semua informasi yang masuk kedalam otak kita sudah lengkap serta seluruhnya adalah sebuah kebenaran, baik itu fakta positif maupun sebaliknya. Barulah analisis bisa dilakukan, bukannya malah langsung lompat ke konklusi tanpa klarifikasi kelengkapan dan kebenaran masukan informasi terlebih dahulu. Salah kesimpulan bisa berabe. Bisa hancur dunia persilatan.

Akhir kata, mari kita tengok kasus Warteg Ibu Saeni yang ramai belakangan ini. Informasi muncul secara bertahap, dimana kesimpulan yang diambil tiap tahapnya terhadap kasus ini bisa berbeda. Perspektif yang digunakan pun akan memunculkan kesimpulan yang berbeda. Saya tidak akan membahas siapa yang benar, siapa yang salah, dan siapa yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini. Saya hanya mengajak teman-teman untuk ber-tabayyun saat memproses seluruh informasi yang beredar saat ini. Mengingat sudah makin melebarnya pembahasan dari kasus ini, luar biasa simpang siurnya berita yang beredar, serta keterbatasan kita untuk dapat memastikan secara langsung kondisi sesungguhnya di TKP. Mari bersabar. Ojo kesusu.

#12 Berbicara Dengan Tangan

IMG_3041
Fans Berat Public Speaking

Jika boleh jujur, saya sangat menikmati setiap kesempatan untuk berbicara di depan umum. Ada satu kesenangan tersendiri yang saya rasakan saat dapat menyampaikan ide yang saya miliki pada khalayak banyak, dengan cara dan tutur kata saya sendiri. Entah itu presentasi tugas di depan kelas semasa kuliah, menjadi Komandan Lapangan (DanLap) saat OS himpunan, sampai merasakan bagaimana serunya menjadi komika dan ber stand-up comedy sewaktu PK (dan sepertinya nge-bomb berat). Saya, yang terhitung agak sulit “panas” saat harus berinteraksi dalam grup yang lebih kecil, seperti diberikan corong untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran selama ini dan sulit untuk diutarakan. Rasanya seperti sebuah terapi relaksasi yang amat sangat sayang untuk dilewatkan.

Teman-teman yang pernah melihat saya berbicara bisa jadi memperhatikan sesuatu yang seperti jadi kebiasaan: Saya selalu menggerakkan tangan saya saat berbicara. Tak peduli itu saat berbicara satu dengan satu maupun saat berbicara di depan umum. Saya ingat betul pengalaman waktu SMP, dimana saat itu saya diejek teman sekelas karena terus menggerakkan tangan waktu berbicara di depan kelas. Sebelumnya saya memang tidak pernah sadar akan kebiasaan tersebut, karena terlampau asyik berbicara. Kebiasaan tersebut rupanya terbawa sampai dewasa. Pernah sewaktu menjadi DanLap dan berorasi, saya berbicara tentang buku angkatan. Tanpa sadar saya mengangkat tangan saya dan seolah-olah mengacungkan sebuah buku yang mana kalau orang lihat pasti bingung akan gestur yang saya lakukan. Konyol memang hal-hal itu jika diingat kembali, tapi ya saya anggap wajar saja. Tokh yang utama adalah saya berhasil menyampaikan pesan dan isi pikiran. Betul tidak?

Tapi lama-lama saya jadi penasaran juga. Kenapa orang menggerakkan tangannya saat berbicara? Apakah itu sebuah kebiasaan buruk? Atau malah jadi sebuah sinyal positif? Yuk kita coba cari tahu sama-sama!

Gerakan Tangan? Buat Apa Sih?

Gerakan tangan saat berkomunikasi pada dasarnya punya beberapa fungsi. Pertama, ia berfungsi untuk memberikan informasi saat suara tidak bisa menjangkau lawan bicara. Baik itu karena jarak atau karena keterbatasan kemampuan. Itulah mengapa kita menggunakan bahasa isyarat saat mengobrol dengan rekan-rekan tunawicara dan tunarungu. Gerakan-gerakan tersebut “dibakukan” sehingga saat kita melakukan gerakan tertentu orang bisa paham maksud kita tanpa perlu komunikasi secara verbal. Misalnya, saat kita mengacungkan jempol itu berarti kita menyampaikan suatu “persetujuan” atas apa yang disampaikan oleh lawan bicara alias OKE SIPH. Uniknya, gestur-gestur tersebut bisa punya makna yang berbeda di tiap negara. Misalkan gestur membuat huruf “O” dengan jempol dan telunjuk. Di Indonesia gestur tersebut diartikan dengan “Oke” untuk menyatakan persetujuan. Berbeda di Prancis dan Amerika Latin, dimana gestur ini malah dianggap sebagai sebuah penghinaan bagi lawan bicara.  Itulah mengapa kita harus berhati-hati saat akan menggunakan gestur tangan saat berada di negeri orang. Seperti kata pepatah, lain ladang lain belalang.

Kedua, gerakan tangan mampu membuat kita menjaga tempo bicara dan menemukan kata yang “hilang”. Seringkali saat kita berbicara ada saat dimana kita kehilangan kata yang diperlukan untuk mendefinisikan sesuatu. Saat otak kita berjuang mencari kata-kata tersebut, umumnya kita mengisi jeda tersebut dengan menggumamkan kata-kata kosong seperti “Mmm” atau “Err”, yang acapkali dianggap kurang profesional. Gerakan tangan berfungsi sebagai upaya bawah sadar untuk mengalihkan sebagian beban kerja di otak ke tangan. Gerakan tersebut juga upaya untuk membantu mengingat dengan cara mendeskripsikan mental image dari kata tersebut ke dalam sebuah “umpan” untuk memancing memori dari kata tersebut. Bisa jadi inilah alasan ilmiah kenapa rapper selalu menggerakkan tangannya saat beraksi: untuk menjaga tempo dan membantu mengingat lirik yang umumnya sangat panjang. MIND: BLOWN.

mind_blown
BLOWN. BLOWN. BLOWN AWAY.

Fungsi yang ketiga dari gerakan tangan adalah sebagai “bahasa kedua” yang dapat menjelaskan sesuatu yang terlewat dari penjelasan verbal. Gerakan-gerakan ninja yang dilakukan saat kita berbicara bisa jadi memberikan detail yang mempermudah lawan bicara untuk paham. Saat kita menjelaskan lokasi suatu objekt, misalnya. Seringkali tangan kita tanpa sadar bergerak untuk menunjukkan posisi relatif suatu objek terhadap objek lainnya, atau untuk menunjukkan kearah mana dan bagaimana suatu objek bergerak. Studi memang menunjukkan bahwa gerakan tangan lebih sering dilakukan saat kita berupaya menjelaskan suatu konsep spasial. Terkait juga dengan fungsi kedua, pada tahun 1996 pernah dilakukan studi dengan cara meminta subjek tes untuk menonton sebuah kartun dan menjelaskan kembali isi ceritanya. Yang menarik adalah saat menjelaskan cerita kartun tersebut tangan mereka diikat sehingga tidak bisa digerakkan sama sekali. Yang terjadi adalah mereka mengalami kesulitan saat harus menjelaskan sesuatu yang sifatnya spasial (seperti saat sang tokoh jatuh ke jurang) namun lancar saat menjelaskan hal-hal lainnya. Super sekali.

Fungsi yang terakhir adalah munculnya impresi positif bagi pembicara. Gerakan tangan saat berbicara dapat meningkatkan kepercayaan diri serta memberikan kesan tingkat intelektualitas yang lebih tinggi. Hal ini, menurut Annie Paul dari Business Insider, adalah sebagai implementasi dari “embodied cognition” yang merupakan kondisi dimana cara tubuh bekerja mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir. Kepercayaan dari pendengar pun dapat dibangun melalui gerakan tangan saat berbicara. Saat gestur seseorang tidak sesuai dengan kata-kata yang disampaikan, pendengar akan mempersepsikan (secara sadar maupun tidak sadar) bahwa sang pembicara tidak yakin atau malah sedang melakukan tipu muslihat. Itulah mengapa Dora The Explorer selalu bertanya lebih dari sekali pada kita saat sedang meminta tolong, karena dia bisa melihat ketidaktulusan saat kita sedang menjawab. Marilah kita mulai, semenjak saat ini, untuk menjawab dengan ikhlas saat Dora bertanya, “APA KALIAN BISA MELIHAT RUMAH NENEK?”.

hqdefault
Hmm.. Beneran liat? Ciyus? Miapah?

Lalu Untungnya Buat Saya Apa?   

Tanpa bermaksud untuk mengaku-ngaku, orang yang menggerakkan tangannya sewaktu berbicara dianggap memiliki ciri-ciri pemimpin yang karismatik dan bergairah. Gerakan tangan tersebut merupakan wujud dari antusiasme yang dimilikinya, dimana antusiasme yang berhasil dterjemahkan dengan baik akan mampu menarik simpati lawan pendengar. Carol Goman dari Forbes menyatakan bahwa orang yang berbicara sambil menggerakkan tangannya dipersepsikan sebagai pribadi yang hangat, energik, dan sangat mudah dipahami. Saat antusiasme tersebut berhasil dipahami dan ditularkan, timbullah apa yang kita sebut dengan “karisma”. Dipadukan dengan gairah yang menggebu saat menjelaskan sesuatu, maka tampaklah sosok seorang pemimpin berkualitas. Mari kita lihat sosok Presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Tutur katanya yang penuh semangat dan gerakan tubuhnya yang menggebu-gebu saat berorasi membuat semua pendengarnya ikut bergelora. Setiap gerakan tangannya menjadi penekanan bagi pesan-pesannya, memberikan dampak amplifikasi yang luar biasa yang sanggup membius siapapun. Sebagaimana juga dinyatakan oleh Goman, saat seorang pemimpin tidak menggunakan gestur dengan tepat itu menunjukkan bahwa mereka tidak memahami isu yang mereka bicarakan, tidak memiliki keterkaitan emosional dengan isu tersebut, bahkan tidak memahami dampak dari tindakan mereka tersebut terhadap pendengarnya.

Bagi para orangtua, jangan panik saat anak anda selalu menggerakkan tangannya saat berusaha menjelaskan sesuatu. Sebuah studi pada tahun 2015 menunjukkan bahwa anak usia 5 tahun yang menggerakkan tangannya saat berusaha menjelaskan sesuatu akan memiliki kemampuan yang sangat baik untuk menceritakan sesuatu secara terstruktur serta memiliki perbendaharaan kata yang lebih luas seiring bertambahnya usia. Studi lain juga menunjukkan bahwa anak yang belajar sambil menggerakkan tangannya saat belajar aljabar memiliki kemampuan mengingat tiga kali lebih baik dibanding teman-temannya yang tidak melakukan. Mereka juga mampu menguraikan informasi yang disimpannya dengan lebih baik. Luar biasa bukan? Tapi jangan sampai akhirnya malah memaksakan anak anda untuk menggerakkan tangannya, ya. Anak kan manusia juga, bukan wayang kulit.