#20 Gelisah Menanti

#20 Gelisah Menanti

Bolak-balik ia memegang handphonenya. Tapi tak dibuka.

Kemudian dilempar. Diambil lagi.

Tak lama dilempar lagi. Begitu terus.

Ia sedang gelisah.

Pesan yang ia kirim pada sang pujaan hati tak kunjung dibalas.

“Mungkin ia sedang sibuk.”

“Mungkin HP-nya ditinggal pergi.”

Jam demi jam berlalu. Berganti hari.

Masih tak ada jawaban.

Masih gelisah.

Putus asa melawan ketidakpastian, dicarilah pengalihan.

Dibukalah Instagram, dicermati isi linimasa satu-satu.

Sampai kemudian terhenyak.

Ada unggahan dari sang pujaan hati.

Satu. Dua. Tiga.

“Kenapa bisa dia punya waktu untuk ini?”

“Tapi pesanku tak dibalas.”

Tega.

Kejadian diatas, pernah saya alami. Anda mungkin pernah mengalaminya juga. Dan jadi terasa lebih pahit saat anda kemudian buka kembali pesan terakhir yang anda kirim via aplikasi chatting.

Rupanya sudah dibaca. Tapi cuma dibaca.

Generasi kita memang generasi patah hati. Punya lebih banyak cara dibuat patah hati, maksudnya. Kiriman pesan yang hanya dibaca pun bisa patah hati. Maklum, sudah keburu punya ekspektasi tinggi.

Teknologi yang makin maju, bikin pertukaran informasi jadi makin mudah. Makin cepat dan makin lancar pertukaran informasi antara dua insan, makin tidak siap kita saat harus terhenti tiba-tiba. Apalagi tanpa alasan yang jelas. Masalahnya: kita jadi tahu manakala kita diabaikan, detik itu juga.

Siapa yang lalu tak jadi gelisah.

“Saya ini salah apa. Kenapa kamu tak balas pesan saya. Padahal terakhir tadi masih tertawa bersama. Apa saya menyakiti perasaan kamu? Apa saya sudah jadi orang membosankan? Atau kamu memang tak tertarik sama saya?”

… dan sejuta tanya lainnya dalam kepala. Yang mungkin tak pernah ketemu jawabnya. Karena gengsi kalau mau ditanyakan. Takut dikira posesif. Nanti malah makin menjauh pula.

Tapi saya paham, kok. Hidup di kubangan ekspektasi orang memang sulit. Harus pandai-pandai memilih yang mana yang mesti dipenuhi. Salah-salah nanti ada yang patah hati. Tapi kenapa kamu memilih untuk tidak memenuhi ekspektasi saya?

Hush, dasar egois kamu.

Eh, saya.

Advertisements

#19 Berdamai Dengan Ekspektasi

#19 Berdamai Dengan Ekspektasi

Saya pernah cerita di post ini kalau sekarang saya sedang rutin bolak-balik ke Pangalengan naik motor. Perlengkapan berkendara lengkap, kondisi motor baik, dan semaksimal mungkin saya berupaya untuk mengemudi dengan baik dan benar. Teorinya, perjalanan saya akan berlangsung dengan aman dan nyaman. Tidak akan terjadi hal-hal yang akan membahayakan diri saya dan orang lain.

Fakta berkata lain.

Sekitar dua bulan lalu, awal bulan puasa, saya kecelakaan. Tulang bahu kanan saya patah dan saya terpaksa harus beristirahat di rumah selama kurang lebih sebulan. Penyebabnya? Karena saya menabrak motor di depan yang tiba-tiba standing alias wheelie. Saya yang kaget tidak sempat menghindar dan akhirnya benturan tidak bisa dihindari. Alhamdulillah, pengendara motor depan tidak mengalami luka apapun dan masalah bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Sayanya sendiri: selain patah tulang ya motornya ada beberapa bagian yang hancur karena terbanting, sih. Tapi yo wes lah.

standing
Kurang lebih seperti ini lah yang saya hadapi tempo hari. 

Kalau dirunut, kejadiannya kurang lebih begini:

  1. Saya sedang berkendara di areal jalan kebun teh. Jalannya sih bagus, dibeton.
  2. Di depan saya ada dua remaja sedang naik motor. Cowok bonceng cewek.
  3. Saya berekspektasi kalau sedang boncengan begitu mereka memang sedang jalan normal.
  4. Saya bersiap-siap menyusul mereka, dan mulai menaikkan kecepatan sedikit.
  5. Apa dinyana, tiba-tiba motor mereka standing. Kecepatan mereka otomatis berkurang drastis.
  6. Karena jarak yang jadi tiba-tiba sangat dekat, saya tidak bisa menghindar. Tabrakan pun terjadi.

Ada hal penting yang saya pelajari dari kejadian ini. Ekspektasi saya salah dan saya kena batunya.

Saya yakin seyakin-yakinnya kalau orang pacaran nggak akan pernah berniat buat membahayakan pasangannya. Makanya saya berasumsi mereka nggak akan macem-macem di atas motor. Dan rupanya cara orang menyenangkan pacarnya beda-beda. Supaya dianggap romantis, diangkatlah roda depan motor oleh sang pria agar sang gadis bisa merasakan indahnya romansa kisah cinta masa muda. Bahwa cinta mereka akan makin membuncah manakala adrenalin tengah bergejolak. Sayangnya mereka juga berekspektasi bahwa di jalan itu hanya ada sang kekasih dan kendaraan cinta. Tiada yang bisa mengganggu dunia mereka berdua.

Padahal nyatanya di belakang ada mas-mas jomblo yang kelabakan menghadapi aksi kejutan pernyataan cinta mereka.

Ekspektasi memang jadi salah satu penyebab terjadinya banyak kecelakaan maupun kegelisahan. Salah mengira cara berkendara orang lain, ujung-ujungnya bisa tabrakan. Terlalu berharap pengertian pasangan atau gebetan, ujung-ujungnya galau. Penyebabnya sederhana: ekspektasi dipasang terlalu tinggi. Saat tidak tercapai ya jadinya kecewa. Itulah kenapa banyak yang menyarankan supaya kita harus pintar-pintar menaruh ekspektasi. Jangan terlalu tinggi biar tidak kecewa, jangan terlalu rendah supaya tidak terlalu cepat puas.

Supaya tidak terulang kembali kejadian-kejadian tidak enak itu, ada dua cara yang bisa dilakukan.

Pertama, belajarlah menaruh ekspektasi yang terukur.

Bagaimana caranya supaya bisa mengukur ekspektasi? Banyak-banyaklah membaca. Membaca bukan hanya sekadar membaca buku. Bacalah keadaan. Bacalah pengalaman. Pengetahuan dasar akan suatu isu sangat diperlukan agar kita bisa menaruh ekspektasi awal. Namun, terkadang kita merasa sudah mengetahui semua hal yang kita butuhkan dan kemudian langsung berintuisi. Saat itulah kita berada dalam sebuah ilusi, ilusi saya-tahu-segalanya. Celakanya, kita malah jadi luput memperhatikan tanda-tanda yang muncul. Keganjilan-keganjilan yang mestinya jadi sinyal agar kita segera melakukan penyesuaian atau melakukan tindakan pembetulan. Disinilah pentingnya agar kita terus awas, supaya kita tidak terbuai dengan ekspektasi dari intuisi. Intuisi yang bisa jadi terus menumpul karena tak kunjung diasah.

Sebuah percobaan menarik pernah dilakukan oleh Dan Simons dan Cristopher Cabris untuk menunjukkan betapa ilusi dari ekspektasi dan intuisi sungguh nyata adanya. Silahkan buka video dibawah dan beritahu hasilnya di kolom komentar blog saya, ya. Biar rame please… *memelas*

Kalau disambungkan dengan kejadian saya, saya mengakui bahwa saat itu saya belum pernah punya pengalaman berhadapan dengan orang yang romantisnya standing-standing mendadak begitu. Itulah kenapa intuisi saya memunculkan ekspektasi bahwa tidak masalah kalau motor depan saya salip. Ini aman, ini aman, rupanya kejadian. Pasca kejadian, sekarang saya jadi jauh lebih waspada saat bertemu remaja boncengan di sekitar area kejadian. Saban ada yang kayak begitu, bawaannya jadi ekstra hati-hati. Sebab saya belajar dari pengalaman sebelumnya, dan sekarang bisa mengatur ekspektasi dengan lebih baik demi keamanan saya.

Berdasarkan observasi pasca kejadian, ciri-ciri motor yang mau dipake standing adalah posisi duduknya penumpang  sangat ke belakang seperti yang lagi musuhan. Fungsinya adalah untuk mengungkit motor agar roda depan bisa terangkat, bukan mengungkit masa lalu. Itu lah makanya bagi yang pacarnya sedang marah dan saat dibonceng duduknya jauh kebelakang, waspadalah. Mana tau tiba-tiba pacar anda beraksi dan motor anda jadi standing. Kasian mas-mas jomblo yang naik motor di belakang anda.

Kedua, bersedialah untuk melakukan usaha lebih demi mencapai ekspektasi yang diharapkan.

Presiden pertama kita pernah memberikan nasihat yang sangat quoteable dan captionable:

“Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” – Ir. Soekarno

Sebuah nasihat yang sangat indah. Yang bila dimaknai secara amat dangkal oleh kaum pemalas terasa sangat menyejukkan. Cukup lah kita hanya bermimpi tinggi tanpa usaha, ujung-ujungnya tetap dapat hasil lumayan juga.

Lho ya nggak bisa kayak gitu. Ra iso koyok ngono. Life doesn’t work that way.

Tidak ada seorangpun motivator di dunia ini yang pernah bilang bahwa cukup ongkang-ongkang kaki untuk mewujudkan impian kita. Semua harus diraih dengan usaha, yang tentu tingkatnya bersesuaian dengan seberapa tingginya impian kita. Jika kita sudah menaruh ekspektasi, bersiaplah untuk ikut melakukan tindakan. Sekalipun sumber pemenuhan ekspektasi anda adalah orang lain. Ya, meskipun orang lain.

Kembali pada kejadian saya untuk contoh.  Saya menaruh ekspektasi pada pengendara motor di depan saya bahwa mereka akan berkendara dengan baik dan benar sehingga saya akan selamat, karena saya sudah mengemudi dengan baik dan benar. Itulah kenapa saya kemudian berani untuk menyusul mereka. Seandainya saya sudah tahu akan ciri-ciri pengendara yang berbahaya tersebut, saya akan mengurungkan niat saya untuk menyusul dan kemudian melakukan usaha untuk menjaga keamanan saya. Salah satunya dengan mengurangi kecepatan dan menjaga jarak. Dengan demikian, saat pengendara depan menghancurkan ekspektasi saya pun (dengan cara standing) saya tetap akan aman.

Pun dalam kehidupan sehari-hari seperti itu. Mau menikah, carilah pasangan. Mau jadi kaya, berusahalah. Mau sehat, aturlah pola makan dan olahraga. Mau banyak teman, ramahlah pada semua. Semua terjadi karena hubungan sebab-akibat dan timbal balik. Tidak bisa tidak, semua harus dicapai dengan pengorbanan dalam bentuk effort. Disinilah sebetulnya kuasa kita harus bermain, saat berekspektasi ingin punya kehidupan yang seperti apa. Mau itu tingkat ekonomi seperti apa, punya teman sebanyak apa, dan apa-apa yang lain. Saat ekspektasi yang terukur sudah tertanam, nyalakan semangat untuk berjuang meraihnya.  Pacu terus hingga semua impian tercapai. Janganlah pula tetapkan ekspektasi yang kerendahan, supaya kita tidak cepat puas. Jadilah seorang over-achiever, lampaui batas-batas diri kita. Karena hidup adalah soal mendobrak batas diri.

P.S.: Terkecuali dalam hal mencari pasangan, janganlah jadi over-achiever. Bila diekspektasikan punya satu, ya sudah cukup satu saja.

 

#17 Sebuah Puisi: Cinta Mati

#17 Sebuah Puisi: Cinta Mati

CINTA MATI

Ceritakan padanya kisah
Jasadnya seorang lelaki
Yang mati tenggelam
Pada air mata kekasihnya!

Rautnya beku berair pilu
Bekas memelas pada sang gadis
Mintakan barang sekejap ketenangan;
Telapak kakinya betapa kasar
Sisa diseret penuh paksa
Atas nama nyatanya ego;
Bola matanya hilang
Rusak dikoyak cabik kenaifan
Cinta itu mestilah buta;
Hilang pula hatinya
Ada bekas gerogotan perlahan
Pun jahitan dari patah berulang.

Di saku celananya yang kedodoran
Secarik catatan kumal ditemukan:
“Kebumikan aku pada gelapnya mata kekasihku.”

Dan kami lakukan
Lalu kembali pada hidup yang biasa.

Bandung, 11 Agustus 2016

#16 Sebuah Puisi: Mana Saya Tahu

#16 Sebuah Puisi: Mana Saya Tahu

Mana Saya Tahu

 

Kalau kamu lebih suka

Disapa tanpa basa-basi

Mana saya tahu

 

Kalau kamu amat takut

Kala gemparnya petir malam

Mana saya tahu

 

Kalau kamu pernah punya

Kisah kasih nan kesah

Mana saya tahu

 

Kalau kamu rindu bertatap

Pada riuhnya debur ombak

Mana saya tahu

 

Kalau kamu jadi kelu

Saat harus bertutur marah

Mana saya tahu

 

Kalau kamu dulu kehilangan

Hari bahagia karena terlupa

Mana saya tahu

 

Kalau kamu berubah benci

Bila dipuji manis

Mana saya tahu

 

Saya cuma tahu

Saya tidak tahu

Saya mau tahu

 

Bisa kah?

 

Bandung, 4 Agustus 2016

#15 Sebuah Puisi: Sajak Kaus Kaki Bolong

#15 Sebuah Puisi: Sajak Kaus Kaki Bolong

SAJAK KAUS KAKI BOLONG

 

Padahal aku sudah bilang

Bapakmu sudah bilang

Ibumu sudah pula bilang

 

Sudah aku jangan dipakai lagi.

 

Masaku diganti sudah lewat

Seribu hari kalau tak salah ingat

Kakimu jadi banyak luka

Kamu malah tertawa

Bilang itu bikin tambah kuat

 

Aku cuma kaus kaki

Dibikin buat diinjak-injak

Aku dulu bagus pun percuma

Masih tetap diinjak-injak

Sudah bolong begini kamu masih pakai

Apa memang kamu suka menginjak-injak?

 

Kalau aku jadi orang

Kamu jadi kaus kaki bolong

Sama bingungnya kah kamu denganku?

 

Bandung, 29 Juli 2016

#14 Sebuah Prosa: Kemana Kartu Pos

Taman-mailbox-Rumah-kotak-pos

KEMANA KARTU POS

Masih belum tiba.

Menatap kosongnya kotak merah itu lalu menghela nafas panjang kini jadi caraku tiap memulai hari. Dinginnya udara pagi mengebaskan wajah, membekukan raut kecewa karena hari ini terlalu berharap. Kututup perlahan si kotak pos. Atau setengah dibanting, aku lupa. Yang kuingat cuma secuil gumaman pelan, “Esok pasti tiba. Pasti.”.

Ekspektasi itu candu.

Garis wajahmu pun candu.

Detik ini, aku meregang rindu.

Bandung, 5 Juni 2016

#13 Ojo Kesusu

#13 Ojo Kesusu

Sebagai pembukaan, mari kita simak sebuah surat yang cukup menarik dibawah ini. Sesuai judul, ojo kesusu alias jangan  buru-buru.

TUTORIAL PERANG DI FB

Oleh: Anonim

2016 adalah tahunnya perselisihan. Bagi kaum melek teknologi (atau at least yang meletet dikit), media sosial jadi arena tempurnya. Seru deh. Semua punya kubu yang dijagokan, (hampir) semua punya argumen sendiri. Bagi yang tak punya argumen, Facebook punya senjata maut buat kita. Sebuah fitur maha dahsyat yang bernama “Share”. Fitur ini bak senapan yang kencangnya minta ampun buat melumpuhkan lawan. Siapa sih yang bisa berkutik kalau dihadapkan dengan fakta yang aktual, tajam, terpercaya?

Layaknya pemburu handal, cari peluru itu haruslah yang tokcer dan sesuai dengan target buruan. Targetmu korban pencitraan seorang politisi? Paling mantap ya di-dor pakai kompilasi kelakuan buruk sang politisi. Biar sembuh. Sedang berhadapan sama yang ngeyel soal toleransi? Asyiknya ya disikat pakai kombinasi logika – ayat suci – pendapat ahli agama. Biar sadar.

Ngomong-ngomong, tidak perlu berterimakasih kok kalau kamu sudah sembuh dan sadar. Niat kami tulus ingin membantu.

Situs-situs berita online jadi acuan buat mencari amunisi sehari-hari. Tapi harap maklum, kami orang sibuk, waktu luang kami tidak banyak. Suka tidak keburu kalau harus baca seluruh isi beritanya. Tapi saya yakin kok, semua kantor berita memegang teguh kode etik jurnalistik. Judul pasti sesuai dengan isinya. Isinya pasti hasil dari investigasi mendalam bermodal darah, keringat, dan air mata. Mana mungkin sih, berita palsu berani disebar? Ya tokh? Ya tokh? Waspada situs abal-abal, katamu? Apa itu? Kami tahunya bala-bala. Eh, tapi tahu kok bala-bala? Kan tempe. Intinya mah, asal beritanya sesuai dengan hati nurani saya, pasti sesuai dengan hati nurani kamu. Kalo enggak… ya kamunya aja bebal itu mah. Kzl.

Enaknya perang di dunia maya itu kami bisa jadi lebih percaya diri. Aslinya kan kami pemalu. Nulis panjang-panjang nggak akan ada yang protes. Share banyak-banyak nggak akan ada yang protes. Kalo ada yang protes, itu namanya menolak kebenaran. Serunya lagi, disini bisa hit and run gitu. Kayak lagi gerilya. Jangan salah, itu bukan tindakan pengecut. Itu namanya taktik. Makanya ya saya juga maklum kalau kamu pakai strategi itu. Namanya juga perang.

Sebelum saya mohon pamit, izinkan saya menyampaikan terimakasih kepada beberapa pihak.

Pertama, terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang mau repot-repot share artikel-artikel menarik lebih dulu, jadi saya tinggal reshare aja. Sudah saya baca kok thumbnail dan captionnya. Sangat informatif.

Kedua, terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang kreatif luar biasa yang sudah bantu bikin meme-meme (ini bacanya mim atau me-me sih?) cerdas. Mantap banget nih buat jadi senjata kalau ketemu lawan yang bebal, jadi nggak perlu nulis panjang-panjang. Sedikit saran, mbok ya resolusinya digedein gitu lain kali, ini gambarnya pecah melulu. Kasian nanti lawan debat saya nggak bisa baca.

Ketiga, terima kasih kepada pencipta FB. Tanpa kamu, mau dikemanakan waktu luang saya?

Keempat, terima kasih kepada rekan-rekan jurnalis di semua situs berita panutan saya. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup, ya. Kalian pasti capek karena harus melakukan investigasi terus-menerus, wawancara sana-sini, dan nulis artikel banyak-banyak.

Akhir kata, sampai kita berjumpa lagi. Di Facebook aja ya.

PS: Selanjutnya kami mau bikin tutorial menaklukkan Samyang Challenge.

Bukan hal ganjil lagi bagi kita untuk menemui oknum-oknum dengan perilaku bermedia sosial seperti diatas. Media sosial yang awalnya kita harapkan bisa jadi sarana untuk bercengkrama dengan orang terdekat, malah berubah jadi medan perang yang kian hari kian memanas. Semua hal bisa jadi perkara, dari yang sederhana seperti pilih #teamCap atau #teamIronman sampai isu-isu sensitif macam politik dan agama. Masih segar di ingatan kita bagaimana dahsyatnya perang argumen di dunia maya saat Pemilu 2014 lalu. Dunia maya seakan-akan terbagi dua, semua merasa capres idolanya adalah yang paling benar. Pertikaian malah terjadi di tingkat grass root. Bukannya beradu gagasan maupun rencana kedepan, malah sibuk mencari keburukan dari capres sebrang. Mirisnya, yang dulunya kawan bisa jadi lawan. Hanya karena gontok-gontokan di laman FB, silaturahmi malah jadi putus. Awalnya saling mengagungkan capres idaman, malah berakhir dengan menganjing-anjingkan teman yang tak sepaham. Padahal kedua capresnya malah adem ayem saja.

Kita adalah generasi pertama yang memasuki dan merasakan era keterbukaan informasi. Mulai dari anak kecil sampai yang sudah lanjut usia, semua bisa mendapatkan dan membagikan informasi dengan bermodal klik semata. Keran informasi bagai dibuka tanpa batas, aksesnya pun semakin mudah. Layaknya individu yang masuk ke dalam lingkungan baru, kita masih dalam tahap meraba-raba untuk mencari batas etika dari dunia maya. Bergerak di dunia yang seakan-akan sangat bebas ini kadang malah bisa melukai diri sendiri. Tubruk sana tubruk sini, sebagai implementasi kasar langkah trial and error. Saking serunya kadang kita malah kebablasan, terlebih dengan anggapan betapa mudahnya berganti identitas di dunia maya. Kedewasaan dalam berkomunikasi di media sosial pun tak kunjung terbentuk, bahkan untuk orang yang dibilang berusia dewasa di kehidupan nyatanya sekalipun.

Informasi bak pedang bermata dua. Ia bisa mencerdaskan, tapi juga bisa mencederai. Memasuki era keterbukaan seperti saat ini, jumlah informasi yang muncul makin tak terbendung. Pun tak semua bisa dipastikan kebenarannya. Informasi-informasi palsu menyelinap diantara kebenaran. Memanfaatkan celah diantara fakta yang terungkapnya sebagian-sebagian. Informasi seperti inilah yang malah menyesatkan kita, bilamana tak pandai-pandai memilah dan bersabar. Celakanya, dewasa ini informasi malah dimanfaatkan sebagai alat propaganda. Informasi mentah bisa dipoles sana-sini hingga terkesan nyata. Bak serigala berbulu domba, informasi tersebut disebar untuk menguatkan atau melemahkan sesuatu atau malah seseorang. Diperparah dengan mudahnya membuat informasi palsu, bermodal comot gambar sembarang dan keahlian mengarang bebas. Kode etik jurnalistik kian ditinggalkan, tatkala informasi jadi pesanan atau hanya mengejar traffic semata. Kita, sebagai tempat dimana semua informasi tersebut bermuaralah yang kemudian terombang-ambing penuh ketidakpastian. Padahal kita perlu referensi, untuk mengambil posisi dan perspektif tatkala memandang suatu isu. Wajarlah bila kita jadi meragu saat mendengar atau melihat sesuatu, takut itu hanya kabar palsu. Sesungguhnya kawan, bersyukurlah bila kita masih diberikan anugerah untuk merasakan ragu. Sebuah pertanda bahwa nalar dan nurani kita belum membatu dan masih punya kesempatan untuk bertemu dan memastikan kebenaran.

Dalam Islam dikenal konsep tabayyun, yang secara bahasa berarti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya, alias klarifikasi. Perlu kebijaksanaan dalam menahan diri untuk tidak menyebarkan suatu informasi sebelum memastikan keabsahannya. Konsep inilah yang seharusnya dipegang teguh oleh pihak yang memang berperan sebagai portal informasi, maupun masyarakat luas sebagai penerima dari informasi tersebut. Proses klarifikasi bisa dilakukan secara aktif maupun pasif. Baik kita yang proaktif untuk memastikan kebenaran secara langsung ke TKP (jika memungkinkan) atau dengan membandingkan informasi suatu isu dari beberapa sumber yang berbeda. Kalau kedua hal tersebut tidak bisa kita lakukan, hendaknya bersabar menunggu semua fakta akan suatu isu terkuak. Jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu manakala informasi yang muncul baru seadanya. Ingat, OJO KESUSU.

Sayangnya, langkah klarifikasi itu makin ditinggalkan saat ini. Bisa jadi karena kita sudah keburu gatal ingin berkomentar atau memilih kubu saat berhadapan dengan suatu isu. Bisa juga karena energi kita sudah habis akibat terlalu kewalahan menerima derasnya arus informasi yang menerjang.

Informasi yang diterima akan membentuk perspektif kita dalam memandang suatu isu. Perspektif akan menentukan cara kita melakukan analisis sebab-akibat-solusi dari suatu isu. Perspektif jugalah yang akan membentuk sebuah standar penilaian, yang kemudian dipakai untuk melabeli diri sendiri dan orang lain. Yang menarik, suatu isu sebenarnya bisa dipandang secara multi-perspektif. Perbedaan perspektif akan menghasilkan analisis sebab-akibat-solusi yang berbeda dari isu tersebut. Perbedaan inilah yang kemudian dikolaborasikan untuk menghasilkan suatu pemahaman yang komprehensif nan ciamik. Namun terkadang kita lupa akan hal ini, karena keburu asyik melabeli orang yang tak satu perspektif dengan kita dengan berbagai macam titel berkonotasi negatif. Atau malah berusaha memaksakan perspektif kita kepada orang lain. Pokoknya kumaha aing weh.

Perspektif dasar dibentuk dari pengetahuan kita akan suatu isu. Informasi yang datang kemudian akan memperluas pemahaman kita, atau malah merubah penilaian kita terhadap suatu isu. Perubahan sendiri sebetulnya bukan hal yang buruk, selama memang ke arah yang lebih baik. Itulah mengapa kita harus memastikan bahwa semua informasi yang masuk kedalam otak kita sudah lengkap serta seluruhnya adalah sebuah kebenaran, baik itu fakta positif maupun sebaliknya. Barulah analisis bisa dilakukan, bukannya malah langsung lompat ke konklusi tanpa klarifikasi kelengkapan dan kebenaran masukan informasi terlebih dahulu. Salah kesimpulan bisa berabe. Bisa hancur dunia persilatan.

Akhir kata, mari kita tengok kasus Warteg Ibu Saeni yang ramai belakangan ini. Informasi muncul secara bertahap, dimana kesimpulan yang diambil tiap tahapnya terhadap kasus ini bisa berbeda. Perspektif yang digunakan pun akan memunculkan kesimpulan yang berbeda. Saya tidak akan membahas siapa yang benar, siapa yang salah, dan siapa yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini. Saya hanya mengajak teman-teman untuk ber-tabayyun saat memproses seluruh informasi yang beredar saat ini. Mengingat sudah makin melebarnya pembahasan dari kasus ini, luar biasa simpang siurnya berita yang beredar, serta keterbatasan kita untuk dapat memastikan secara langsung kondisi sesungguhnya di TKP. Mari bersabar. Ojo kesusu.