#19 Berdamai Dengan Ekspektasi

#19 Berdamai Dengan Ekspektasi

Saya pernah cerita di post ini kalau sekarang saya sedang rutin bolak-balik ke Pangalengan naik motor. Perlengkapan berkendara lengkap, kondisi motor baik, dan semaksimal mungkin saya berupaya untuk mengemudi dengan baik dan benar. Teorinya, perjalanan saya akan berlangsung dengan aman dan nyaman. Tidak akan terjadi hal-hal yang akan membahayakan diri saya dan orang lain.

Fakta berkata lain.

Sekitar dua bulan lalu, awal bulan puasa, saya kecelakaan. Tulang bahu kanan saya patah dan saya terpaksa harus beristirahat di rumah selama kurang lebih sebulan. Penyebabnya? Karena saya menabrak motor di depan yang tiba-tiba standing alias wheelie. Saya yang kaget tidak sempat menghindar dan akhirnya benturan tidak bisa dihindari. Alhamdulillah, pengendara motor depan tidak mengalami luka apapun dan masalah bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Sayanya sendiri: selain patah tulang ya motornya ada beberapa bagian yang hancur karena terbanting, sih. Tapi yo wes lah.

standing
Kurang lebih seperti ini lah yang saya hadapi tempo hari. 

Kalau dirunut, kejadiannya kurang lebih begini:

  1. Saya sedang berkendara di areal jalan kebun teh. Jalannya sih bagus, dibeton.
  2. Di depan saya ada dua remaja sedang naik motor. Cowok bonceng cewek.
  3. Saya berekspektasi kalau sedang boncengan begitu mereka memang sedang jalan normal.
  4. Saya bersiap-siap menyusul mereka, dan mulai menaikkan kecepatan sedikit.
  5. Apa dinyana, tiba-tiba motor mereka standing. Kecepatan mereka otomatis berkurang drastis.
  6. Karena jarak yang jadi tiba-tiba sangat dekat, saya tidak bisa menghindar. Tabrakan pun terjadi.

Ada hal penting yang saya pelajari dari kejadian ini. Ekspektasi saya salah dan saya kena batunya.

Saya yakin seyakin-yakinnya kalau orang pacaran nggak akan pernah berniat buat membahayakan pasangannya. Makanya saya berasumsi mereka nggak akan macem-macem di atas motor. Dan rupanya cara orang menyenangkan pacarnya beda-beda. Supaya dianggap romantis, diangkatlah roda depan motor oleh sang pria agar sang gadis bisa merasakan indahnya romansa kisah cinta masa muda. Bahwa cinta mereka akan makin membuncah manakala adrenalin tengah bergejolak. Sayangnya mereka juga berekspektasi bahwa di jalan itu hanya ada sang kekasih dan kendaraan cinta. Tiada yang bisa mengganggu dunia mereka berdua.

Padahal nyatanya di belakang ada mas-mas jomblo yang kelabakan menghadapi aksi kejutan pernyataan cinta mereka.

Ekspektasi memang jadi salah satu penyebab terjadinya banyak kecelakaan maupun kegelisahan. Salah mengira cara berkendara orang lain, ujung-ujungnya bisa tabrakan. Terlalu berharap pengertian pasangan atau gebetan, ujung-ujungnya galau. Penyebabnya sederhana: ekspektasi dipasang terlalu tinggi. Saat tidak tercapai ya jadinya kecewa. Itulah kenapa banyak yang menyarankan supaya kita harus pintar-pintar menaruh ekspektasi. Jangan terlalu tinggi biar tidak kecewa, jangan terlalu rendah supaya tidak terlalu cepat puas.

Supaya tidak terulang kembali kejadian-kejadian tidak enak itu, ada dua cara yang bisa dilakukan.

Pertama, belajarlah menaruh ekspektasi yang terukur.

Bagaimana caranya supaya bisa mengukur ekspektasi? Banyak-banyaklah membaca. Membaca bukan hanya sekadar membaca buku. Bacalah keadaan. Bacalah pengalaman. Pengetahuan dasar akan suatu isu sangat diperlukan agar kita bisa menaruh ekspektasi awal. Namun, terkadang kita merasa sudah mengetahui semua hal yang kita butuhkan dan kemudian langsung berintuisi. Saat itulah kita berada dalam sebuah ilusi, ilusi saya-tahu-segalanya. Celakanya, kita malah jadi luput memperhatikan tanda-tanda yang muncul. Keganjilan-keganjilan yang mestinya jadi sinyal agar kita segera melakukan penyesuaian atau melakukan tindakan pembetulan. Disinilah pentingnya agar kita terus awas, supaya kita tidak terbuai dengan ekspektasi dari intuisi. Intuisi yang bisa jadi terus menumpul karena tak kunjung diasah.

Sebuah percobaan menarik pernah dilakukan oleh Dan Simons dan Cristopher Cabris untuk menunjukkan betapa ilusi dari ekspektasi dan intuisi sungguh nyata adanya. Silahkan buka video dibawah dan beritahu hasilnya di kolom komentar blog saya, ya. Biar rame please… *memelas*

Kalau disambungkan dengan kejadian saya, saya mengakui bahwa saat itu saya belum pernah punya pengalaman berhadapan dengan orang yang romantisnya standing-standing mendadak begitu. Itulah kenapa intuisi saya memunculkan ekspektasi bahwa tidak masalah kalau motor depan saya salip. Ini aman, ini aman, rupanya kejadian. Pasca kejadian, sekarang saya jadi jauh lebih waspada saat bertemu remaja boncengan di sekitar area kejadian. Saban ada yang kayak begitu, bawaannya jadi ekstra hati-hati. Sebab saya belajar dari pengalaman sebelumnya, dan sekarang bisa mengatur ekspektasi dengan lebih baik demi keamanan saya.

Berdasarkan observasi pasca kejadian, ciri-ciri motor yang mau dipake standing adalah posisi duduknya penumpang  sangat ke belakang seperti yang lagi musuhan. Fungsinya adalah untuk mengungkit motor agar roda depan bisa terangkat, bukan mengungkit masa lalu. Itu lah makanya bagi yang pacarnya sedang marah dan saat dibonceng duduknya jauh kebelakang, waspadalah. Mana tau tiba-tiba pacar anda beraksi dan motor anda jadi standing. Kasian mas-mas jomblo yang naik motor di belakang anda.

Kedua, bersedialah untuk melakukan usaha lebih demi mencapai ekspektasi yang diharapkan.

Presiden pertama kita pernah memberikan nasihat yang sangat quoteable dan captionable:

“Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.” – Ir. Soekarno

Sebuah nasihat yang sangat indah. Yang bila dimaknai secara amat dangkal oleh kaum pemalas terasa sangat menyejukkan. Cukup lah kita hanya bermimpi tinggi tanpa usaha, ujung-ujungnya tetap dapat hasil lumayan juga.

Lho ya nggak bisa kayak gitu. Ra iso koyok ngono. Life doesn’t work that way.

Tidak ada seorangpun motivator di dunia ini yang pernah bilang bahwa cukup ongkang-ongkang kaki untuk mewujudkan impian kita. Semua harus diraih dengan usaha, yang tentu tingkatnya bersesuaian dengan seberapa tingginya impian kita. Jika kita sudah menaruh ekspektasi, bersiaplah untuk ikut melakukan tindakan. Sekalipun sumber pemenuhan ekspektasi anda adalah orang lain. Ya, meskipun orang lain.

Kembali pada kejadian saya untuk contoh.  Saya menaruh ekspektasi pada pengendara motor di depan saya bahwa mereka akan berkendara dengan baik dan benar sehingga saya akan selamat, karena saya sudah mengemudi dengan baik dan benar. Itulah kenapa saya kemudian berani untuk menyusul mereka. Seandainya saya sudah tahu akan ciri-ciri pengendara yang berbahaya tersebut, saya akan mengurungkan niat saya untuk menyusul dan kemudian melakukan usaha untuk menjaga keamanan saya. Salah satunya dengan mengurangi kecepatan dan menjaga jarak. Dengan demikian, saat pengendara depan menghancurkan ekspektasi saya pun (dengan cara standing) saya tetap akan aman.

Pun dalam kehidupan sehari-hari seperti itu. Mau menikah, carilah pasangan. Mau jadi kaya, berusahalah. Mau sehat, aturlah pola makan dan olahraga. Mau banyak teman, ramahlah pada semua. Semua terjadi karena hubungan sebab-akibat dan timbal balik. Tidak bisa tidak, semua harus dicapai dengan pengorbanan dalam bentuk effort. Disinilah sebetulnya kuasa kita harus bermain, saat berekspektasi ingin punya kehidupan yang seperti apa. Mau itu tingkat ekonomi seperti apa, punya teman sebanyak apa, dan apa-apa yang lain. Saat ekspektasi yang terukur sudah tertanam, nyalakan semangat untuk berjuang meraihnya.  Pacu terus hingga semua impian tercapai. Janganlah pula tetapkan ekspektasi yang kerendahan, supaya kita tidak cepat puas. Jadilah seorang over-achiever, lampaui batas-batas diri kita. Karena hidup adalah soal mendobrak batas diri.

P.S.: Terkecuali dalam hal mencari pasangan, janganlah jadi over-achiever. Bila diekspektasikan punya satu, ya sudah cukup satu saja.