#15 Sebuah Puisi: Sajak Kaus Kaki Bolong

#15 Sebuah Puisi: Sajak Kaus Kaki Bolong

SAJAK KAUS KAKI BOLONG

 

Padahal aku sudah bilang

Bapakmu sudah bilang

Ibumu sudah pula bilang

 

Sudah aku jangan dipakai lagi.

 

Masaku diganti sudah lewat

Seribu hari kalau tak salah ingat

Kakimu jadi banyak luka

Kamu malah tertawa

Bilang itu bikin tambah kuat

 

Aku cuma kaus kaki

Dibikin buat diinjak-injak

Aku dulu bagus pun percuma

Masih tetap diinjak-injak

Sudah bolong begini kamu masih pakai

Apa memang kamu suka menginjak-injak?

 

Kalau aku jadi orang

Kamu jadi kaus kaki bolong

Sama bingungnya kah kamu denganku?

 

Bandung, 29 Juli 2016

Advertisements

#14 Sebuah Prosa: Kemana Kartu Pos

Taman-mailbox-Rumah-kotak-pos

KEMANA KARTU POS

Masih belum tiba.

Menatap kosongnya kotak merah itu lalu menghela nafas panjang kini jadi caraku tiap memulai hari. Dinginnya udara pagi mengebaskan wajah, membekukan raut kecewa karena hari ini terlalu berharap. Kututup perlahan si kotak pos. Atau setengah dibanting, aku lupa. Yang kuingat cuma secuil gumaman pelan, “Esok pasti tiba. Pasti.”.

Ekspektasi itu candu.

Garis wajahmu pun candu.

Detik ini, aku meregang rindu.

Bandung, 5 Juni 2016