Sebagai pembukaan, mari kita simak sebuah surat yang cukup menarik dibawah ini. Sesuai judul, ojo kesusu alias jangan  buru-buru.

TUTORIAL PERANG DI FB

Oleh: Anonim

2016 adalah tahunnya perselisihan. Bagi kaum melek teknologi (atau at least yang meletet dikit), media sosial jadi arena tempurnya. Seru deh. Semua punya kubu yang dijagokan, (hampir) semua punya argumen sendiri. Bagi yang tak punya argumen, Facebook punya senjata maut buat kita. Sebuah fitur maha dahsyat yang bernama “Share”. Fitur ini bak senapan yang kencangnya minta ampun buat melumpuhkan lawan. Siapa sih yang bisa berkutik kalau dihadapkan dengan fakta yang aktual, tajam, terpercaya?

Layaknya pemburu handal, cari peluru itu haruslah yang tokcer dan sesuai dengan target buruan. Targetmu korban pencitraan seorang politisi? Paling mantap ya di-dor pakai kompilasi kelakuan buruk sang politisi. Biar sembuh. Sedang berhadapan sama yang ngeyel soal toleransi? Asyiknya ya disikat pakai kombinasi logika – ayat suci – pendapat ahli agama. Biar sadar.

Ngomong-ngomong, tidak perlu berterimakasih kok kalau kamu sudah sembuh dan sadar. Niat kami tulus ingin membantu.

Situs-situs berita online jadi acuan buat mencari amunisi sehari-hari. Tapi harap maklum, kami orang sibuk, waktu luang kami tidak banyak. Suka tidak keburu kalau harus baca seluruh isi beritanya. Tapi saya yakin kok, semua kantor berita memegang teguh kode etik jurnalistik. Judul pasti sesuai dengan isinya. Isinya pasti hasil dari investigasi mendalam bermodal darah, keringat, dan air mata. Mana mungkin sih, berita palsu berani disebar? Ya tokh? Ya tokh? Waspada situs abal-abal, katamu? Apa itu? Kami tahunya bala-bala. Eh, tapi tahu kok bala-bala? Kan tempe. Intinya mah, asal beritanya sesuai dengan hati nurani saya, pasti sesuai dengan hati nurani kamu. Kalo enggak… ya kamunya aja bebal itu mah. Kzl.

Enaknya perang di dunia maya itu kami bisa jadi lebih percaya diri. Aslinya kan kami pemalu. Nulis panjang-panjang nggak akan ada yang protes. Share banyak-banyak nggak akan ada yang protes. Kalo ada yang protes, itu namanya menolak kebenaran. Serunya lagi, disini bisa hit and run gitu. Kayak lagi gerilya. Jangan salah, itu bukan tindakan pengecut. Itu namanya taktik. Makanya ya saya juga maklum kalau kamu pakai strategi itu. Namanya juga perang.

Sebelum saya mohon pamit, izinkan saya menyampaikan terimakasih kepada beberapa pihak.

Pertama, terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang mau repot-repot share artikel-artikel menarik lebih dulu, jadi saya tinggal reshare aja. Sudah saya baca kok thumbnail dan captionnya. Sangat informatif.

Kedua, terima kasih kepada teman-teman seperjuangan yang kreatif luar biasa yang sudah bantu bikin meme-meme (ini bacanya mim atau me-me sih?) cerdas. Mantap banget nih buat jadi senjata kalau ketemu lawan yang bebal, jadi nggak perlu nulis panjang-panjang. Sedikit saran, mbok ya resolusinya digedein gitu lain kali, ini gambarnya pecah melulu. Kasian nanti lawan debat saya nggak bisa baca.

Ketiga, terima kasih kepada pencipta FB. Tanpa kamu, mau dikemanakan waktu luang saya?

Keempat, terima kasih kepada rekan-rekan jurnalis di semua situs berita panutan saya. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup, ya. Kalian pasti capek karena harus melakukan investigasi terus-menerus, wawancara sana-sini, dan nulis artikel banyak-banyak.

Akhir kata, sampai kita berjumpa lagi. Di Facebook aja ya.

PS: Selanjutnya kami mau bikin tutorial menaklukkan Samyang Challenge.

Bukan hal ganjil lagi bagi kita untuk menemui oknum-oknum dengan perilaku bermedia sosial seperti diatas. Media sosial yang awalnya kita harapkan bisa jadi sarana untuk bercengkrama dengan orang terdekat, malah berubah jadi medan perang yang kian hari kian memanas. Semua hal bisa jadi perkara, dari yang sederhana seperti pilih #teamCap atau #teamIronman sampai isu-isu sensitif macam politik dan agama. Masih segar di ingatan kita bagaimana dahsyatnya perang argumen di dunia maya saat Pemilu 2014 lalu. Dunia maya seakan-akan terbagi dua, semua merasa capres idolanya adalah yang paling benar. Pertikaian malah terjadi di tingkat grass root. Bukannya beradu gagasan maupun rencana kedepan, malah sibuk mencari keburukan dari capres sebrang. Mirisnya, yang dulunya kawan bisa jadi lawan. Hanya karena gontok-gontokan di laman FB, silaturahmi malah jadi putus. Awalnya saling mengagungkan capres idaman, malah berakhir dengan menganjing-anjingkan teman yang tak sepaham. Padahal kedua capresnya malah adem ayem saja.

Kita adalah generasi pertama yang memasuki dan merasakan era keterbukaan informasi. Mulai dari anak kecil sampai yang sudah lanjut usia, semua bisa mendapatkan dan membagikan informasi dengan bermodal klik semata. Keran informasi bagai dibuka tanpa batas, aksesnya pun semakin mudah. Layaknya individu yang masuk ke dalam lingkungan baru, kita masih dalam tahap meraba-raba untuk mencari batas etika dari dunia maya. Bergerak di dunia yang seakan-akan sangat bebas ini kadang malah bisa melukai diri sendiri. Tubruk sana tubruk sini, sebagai implementasi kasar langkah trial and error. Saking serunya kadang kita malah kebablasan, terlebih dengan anggapan betapa mudahnya berganti identitas di dunia maya. Kedewasaan dalam berkomunikasi di media sosial pun tak kunjung terbentuk, bahkan untuk orang yang dibilang berusia dewasa di kehidupan nyatanya sekalipun.

Informasi bak pedang bermata dua. Ia bisa mencerdaskan, tapi juga bisa mencederai. Memasuki era keterbukaan seperti saat ini, jumlah informasi yang muncul makin tak terbendung. Pun tak semua bisa dipastikan kebenarannya. Informasi-informasi palsu menyelinap diantara kebenaran. Memanfaatkan celah diantara fakta yang terungkapnya sebagian-sebagian. Informasi seperti inilah yang malah menyesatkan kita, bilamana tak pandai-pandai memilah dan bersabar. Celakanya, dewasa ini informasi malah dimanfaatkan sebagai alat propaganda. Informasi mentah bisa dipoles sana-sini hingga terkesan nyata. Bak serigala berbulu domba, informasi tersebut disebar untuk menguatkan atau melemahkan sesuatu atau malah seseorang. Diperparah dengan mudahnya membuat informasi palsu, bermodal comot gambar sembarang dan keahlian mengarang bebas. Kode etik jurnalistik kian ditinggalkan, tatkala informasi jadi pesanan atau hanya mengejar traffic semata. Kita, sebagai tempat dimana semua informasi tersebut bermuaralah yang kemudian terombang-ambing penuh ketidakpastian. Padahal kita perlu referensi, untuk mengambil posisi dan perspektif tatkala memandang suatu isu. Wajarlah bila kita jadi meragu saat mendengar atau melihat sesuatu, takut itu hanya kabar palsu. Sesungguhnya kawan, bersyukurlah bila kita masih diberikan anugerah untuk merasakan ragu. Sebuah pertanda bahwa nalar dan nurani kita belum membatu dan masih punya kesempatan untuk bertemu dan memastikan kebenaran.

Dalam Islam dikenal konsep tabayyun, yang secara bahasa berarti mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya, alias klarifikasi. Perlu kebijaksanaan dalam menahan diri untuk tidak menyebarkan suatu informasi sebelum memastikan keabsahannya. Konsep inilah yang seharusnya dipegang teguh oleh pihak yang memang berperan sebagai portal informasi, maupun masyarakat luas sebagai penerima dari informasi tersebut. Proses klarifikasi bisa dilakukan secara aktif maupun pasif. Baik kita yang proaktif untuk memastikan kebenaran secara langsung ke TKP (jika memungkinkan) atau dengan membandingkan informasi suatu isu dari beberapa sumber yang berbeda. Kalau kedua hal tersebut tidak bisa kita lakukan, hendaknya bersabar menunggu semua fakta akan suatu isu terkuak. Jangan terburu-buru menyimpulkan sesuatu manakala informasi yang muncul baru seadanya. Ingat, OJO KESUSU.

Sayangnya, langkah klarifikasi itu makin ditinggalkan saat ini. Bisa jadi karena kita sudah keburu gatal ingin berkomentar atau memilih kubu saat berhadapan dengan suatu isu. Bisa juga karena energi kita sudah habis akibat terlalu kewalahan menerima derasnya arus informasi yang menerjang.

Informasi yang diterima akan membentuk perspektif kita dalam memandang suatu isu. Perspektif akan menentukan cara kita melakukan analisis sebab-akibat-solusi dari suatu isu. Perspektif jugalah yang akan membentuk sebuah standar penilaian, yang kemudian dipakai untuk melabeli diri sendiri dan orang lain. Yang menarik, suatu isu sebenarnya bisa dipandang secara multi-perspektif. Perbedaan perspektif akan menghasilkan analisis sebab-akibat-solusi yang berbeda dari isu tersebut. Perbedaan inilah yang kemudian dikolaborasikan untuk menghasilkan suatu pemahaman yang komprehensif nan ciamik. Namun terkadang kita lupa akan hal ini, karena keburu asyik melabeli orang yang tak satu perspektif dengan kita dengan berbagai macam titel berkonotasi negatif. Atau malah berusaha memaksakan perspektif kita kepada orang lain. Pokoknya kumaha aing weh.

Perspektif dasar dibentuk dari pengetahuan kita akan suatu isu. Informasi yang datang kemudian akan memperluas pemahaman kita, atau malah merubah penilaian kita terhadap suatu isu. Perubahan sendiri sebetulnya bukan hal yang buruk, selama memang ke arah yang lebih baik. Itulah mengapa kita harus memastikan bahwa semua informasi yang masuk kedalam otak kita sudah lengkap serta seluruhnya adalah sebuah kebenaran, baik itu fakta positif maupun sebaliknya. Barulah analisis bisa dilakukan, bukannya malah langsung lompat ke konklusi tanpa klarifikasi kelengkapan dan kebenaran masukan informasi terlebih dahulu. Salah kesimpulan bisa berabe. Bisa hancur dunia persilatan.

Akhir kata, mari kita tengok kasus Warteg Ibu Saeni yang ramai belakangan ini. Informasi muncul secara bertahap, dimana kesimpulan yang diambil tiap tahapnya terhadap kasus ini bisa berbeda. Perspektif yang digunakan pun akan memunculkan kesimpulan yang berbeda. Saya tidak akan membahas siapa yang benar, siapa yang salah, dan siapa yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini. Saya hanya mengajak teman-teman untuk ber-tabayyun saat memproses seluruh informasi yang beredar saat ini. Mengingat sudah makin melebarnya pembahasan dari kasus ini, luar biasa simpang siurnya berita yang beredar, serta keterbatasan kita untuk dapat memastikan secara langsung kondisi sesungguhnya di TKP. Mari bersabar. Ojo kesusu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s