#12 Berbicara Dengan Tangan

IMG_3041
Fans Berat Public Speaking

Jika boleh jujur, saya sangat menikmati setiap kesempatan untuk berbicara di depan umum. Ada satu kesenangan tersendiri yang saya rasakan saat dapat menyampaikan ide yang saya miliki pada khalayak banyak, dengan cara dan tutur kata saya sendiri. Entah itu presentasi tugas di depan kelas semasa kuliah, menjadi Komandan Lapangan (DanLap) saat OS himpunan, sampai merasakan bagaimana serunya menjadi komika dan ber stand-up comedy sewaktu PK (dan sepertinya nge-bomb berat). Saya, yang terhitung agak sulit “panas” saat harus berinteraksi dalam grup yang lebih kecil, seperti diberikan corong untuk mengungkapkan apa yang ada di pikiran selama ini dan sulit untuk diutarakan. Rasanya seperti sebuah terapi relaksasi yang amat sangat sayang untuk dilewatkan.

Teman-teman yang pernah melihat saya berbicara bisa jadi memperhatikan sesuatu yang seperti jadi kebiasaan: Saya selalu menggerakkan tangan saya saat berbicara. Tak peduli itu saat berbicara satu dengan satu maupun saat berbicara di depan umum. Saya ingat betul pengalaman waktu SMP, dimana saat itu saya diejek teman sekelas karena terus menggerakkan tangan waktu berbicara di depan kelas. Sebelumnya saya memang tidak pernah sadar akan kebiasaan tersebut, karena terlampau asyik berbicara. Kebiasaan tersebut rupanya terbawa sampai dewasa. Pernah sewaktu menjadi DanLap dan berorasi, saya berbicara tentang buku angkatan. Tanpa sadar saya mengangkat tangan saya dan seolah-olah mengacungkan sebuah buku yang mana kalau orang lihat pasti bingung akan gestur yang saya lakukan. Konyol memang hal-hal itu jika diingat kembali, tapi ya saya anggap wajar saja. Tokh yang utama adalah saya berhasil menyampaikan pesan dan isi pikiran. Betul tidak?

Tapi lama-lama saya jadi penasaran juga. Kenapa orang menggerakkan tangannya saat berbicara? Apakah itu sebuah kebiasaan buruk? Atau malah jadi sebuah sinyal positif? Yuk kita coba cari tahu sama-sama!

Gerakan Tangan? Buat Apa Sih?

Gerakan tangan saat berkomunikasi pada dasarnya punya beberapa fungsi. Pertama, ia berfungsi untuk memberikan informasi saat suara tidak bisa menjangkau lawan bicara. Baik itu karena jarak atau karena keterbatasan kemampuan. Itulah mengapa kita menggunakan bahasa isyarat saat mengobrol dengan rekan-rekan tunawicara dan tunarungu. Gerakan-gerakan tersebut “dibakukan” sehingga saat kita melakukan gerakan tertentu orang bisa paham maksud kita tanpa perlu komunikasi secara verbal. Misalnya, saat kita mengacungkan jempol itu berarti kita menyampaikan suatu “persetujuan” atas apa yang disampaikan oleh lawan bicara alias OKE SIPH. Uniknya, gestur-gestur tersebut bisa punya makna yang berbeda di tiap negara. Misalkan gestur membuat huruf “O” dengan jempol dan telunjuk. Di Indonesia gestur tersebut diartikan dengan “Oke” untuk menyatakan persetujuan. Berbeda di Prancis dan Amerika Latin, dimana gestur ini malah dianggap sebagai sebuah penghinaan bagi lawan bicara.  Itulah mengapa kita harus berhati-hati saat akan menggunakan gestur tangan saat berada di negeri orang. Seperti kata pepatah, lain ladang lain belalang.

Kedua, gerakan tangan mampu membuat kita menjaga tempo bicara dan menemukan kata yang “hilang”. Seringkali saat kita berbicara ada saat dimana kita kehilangan kata yang diperlukan untuk mendefinisikan sesuatu. Saat otak kita berjuang mencari kata-kata tersebut, umumnya kita mengisi jeda tersebut dengan menggumamkan kata-kata kosong seperti “Mmm” atau “Err”, yang acapkali dianggap kurang profesional. Gerakan tangan berfungsi sebagai upaya bawah sadar untuk mengalihkan sebagian beban kerja di otak ke tangan. Gerakan tersebut juga upaya untuk membantu mengingat dengan cara mendeskripsikan mental image dari kata tersebut ke dalam sebuah “umpan” untuk memancing memori dari kata tersebut. Bisa jadi inilah alasan ilmiah kenapa rapper selalu menggerakkan tangannya saat beraksi: untuk menjaga tempo dan membantu mengingat lirik yang umumnya sangat panjang. MIND: BLOWN.

mind_blown
BLOWN. BLOWN. BLOWN AWAY.

Fungsi yang ketiga dari gerakan tangan adalah sebagai “bahasa kedua” yang dapat menjelaskan sesuatu yang terlewat dari penjelasan verbal. Gerakan-gerakan ninja yang dilakukan saat kita berbicara bisa jadi memberikan detail yang mempermudah lawan bicara untuk paham. Saat kita menjelaskan lokasi suatu objekt, misalnya. Seringkali tangan kita tanpa sadar bergerak untuk menunjukkan posisi relatif suatu objek terhadap objek lainnya, atau untuk menunjukkan kearah mana dan bagaimana suatu objek bergerak. Studi memang menunjukkan bahwa gerakan tangan lebih sering dilakukan saat kita berupaya menjelaskan suatu konsep spasial. Terkait juga dengan fungsi kedua, pada tahun 1996 pernah dilakukan studi dengan cara meminta subjek tes untuk menonton sebuah kartun dan menjelaskan kembali isi ceritanya. Yang menarik adalah saat menjelaskan cerita kartun tersebut tangan mereka diikat sehingga tidak bisa digerakkan sama sekali. Yang terjadi adalah mereka mengalami kesulitan saat harus menjelaskan sesuatu yang sifatnya spasial (seperti saat sang tokoh jatuh ke jurang) namun lancar saat menjelaskan hal-hal lainnya. Super sekali.

Fungsi yang terakhir adalah munculnya impresi positif bagi pembicara. Gerakan tangan saat berbicara dapat meningkatkan kepercayaan diri serta memberikan kesan tingkat intelektualitas yang lebih tinggi. Hal ini, menurut Annie Paul dari Business Insider, adalah sebagai implementasi dari “embodied cognition” yang merupakan kondisi dimana cara tubuh bekerja mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir. Kepercayaan dari pendengar pun dapat dibangun melalui gerakan tangan saat berbicara. Saat gestur seseorang tidak sesuai dengan kata-kata yang disampaikan, pendengar akan mempersepsikan (secara sadar maupun tidak sadar) bahwa sang pembicara tidak yakin atau malah sedang melakukan tipu muslihat. Itulah mengapa Dora The Explorer selalu bertanya lebih dari sekali pada kita saat sedang meminta tolong, karena dia bisa melihat ketidaktulusan saat kita sedang menjawab. Marilah kita mulai, semenjak saat ini, untuk menjawab dengan ikhlas saat Dora bertanya, “APA KALIAN BISA MELIHAT RUMAH NENEK?”.

hqdefault
Hmm.. Beneran liat? Ciyus? Miapah?

Lalu Untungnya Buat Saya Apa?   

Tanpa bermaksud untuk mengaku-ngaku, orang yang menggerakkan tangannya sewaktu berbicara dianggap memiliki ciri-ciri pemimpin yang karismatik dan bergairah. Gerakan tangan tersebut merupakan wujud dari antusiasme yang dimilikinya, dimana antusiasme yang berhasil dterjemahkan dengan baik akan mampu menarik simpati lawan pendengar. Carol Goman dari Forbes menyatakan bahwa orang yang berbicara sambil menggerakkan tangannya dipersepsikan sebagai pribadi yang hangat, energik, dan sangat mudah dipahami. Saat antusiasme tersebut berhasil dipahami dan ditularkan, timbullah apa yang kita sebut dengan “karisma”. Dipadukan dengan gairah yang menggebu saat menjelaskan sesuatu, maka tampaklah sosok seorang pemimpin berkualitas. Mari kita lihat sosok Presiden pertama kita, Ir. Soekarno. Tutur katanya yang penuh semangat dan gerakan tubuhnya yang menggebu-gebu saat berorasi membuat semua pendengarnya ikut bergelora. Setiap gerakan tangannya menjadi penekanan bagi pesan-pesannya, memberikan dampak amplifikasi yang luar biasa yang sanggup membius siapapun. Sebagaimana juga dinyatakan oleh Goman, saat seorang pemimpin tidak menggunakan gestur dengan tepat itu menunjukkan bahwa mereka tidak memahami isu yang mereka bicarakan, tidak memiliki keterkaitan emosional dengan isu tersebut, bahkan tidak memahami dampak dari tindakan mereka tersebut terhadap pendengarnya.

Bagi para orangtua, jangan panik saat anak anda selalu menggerakkan tangannya saat berusaha menjelaskan sesuatu. Sebuah studi pada tahun 2015 menunjukkan bahwa anak usia 5 tahun yang menggerakkan tangannya saat berusaha menjelaskan sesuatu akan memiliki kemampuan yang sangat baik untuk menceritakan sesuatu secara terstruktur serta memiliki perbendaharaan kata yang lebih luas seiring bertambahnya usia. Studi lain juga menunjukkan bahwa anak yang belajar sambil menggerakkan tangannya saat belajar aljabar memiliki kemampuan mengingat tiga kali lebih baik dibanding teman-temannya yang tidak melakukan. Mereka juga mampu menguraikan informasi yang disimpannya dengan lebih baik. Luar biasa bukan? Tapi jangan sampai akhirnya malah memaksakan anak anda untuk menggerakkan tangannya, ya. Anak kan manusia juga, bukan wayang kulit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s