#10 Sebuah Cerpen: Gila

GILA

Oleh: Pandu Wicaksono (@panduwicaksono)

“Ugh..”, kubuka perlahan mataku. Seberkas sinar matahari berhasil memaksaku untuk bangun. Aku termenung sejenak. Jiwaku belum terkumpul sepenuhnya, sepertinya. Pandanganku masih belum bisa fokus, kepalaku masih sedikit berputar. Dua botol bir sialan itu sukses membuatku lemas, sepertinya.

Aku mencoba untuk bangun. Apa daya, aku cuma bisa berdiri sekejap. Terpaksa aku duduk di sisi kasur. Kembali aku termenung. Mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi tadi malam. Apa yang membuatku mau menenggak dua botol cairan haram bajingan itu. Untuk pertama kalinya.

Aku. Kehilangan. Dirimu. Ya, dirimu. Dirimu yang selalu aku rindu. Dirimu yang selalu aku tunggu. Dirimu yang selalu aku kagumi. Dirimu yang selalu bisa buatku tersenyum. Dirimu yang selalu tampak indah. Dirimu yang membuat duniaku tampak lebih indah. Dirimu yang bisa membuatku mematikan setan sembilan-senti-berkepala-merah yang awalnya selalu terselip di bibirku. Dirimu yang benar-benar merubah diriku.

Semuanya masih terasa indah, sampai tadi malam. Dan seharusnya jadi makin indah, kalau saja rencanaku berjalan sempurna. Mawar ini tak akan jadi sia-sia. Cincin itu tak akan berakhir di kloset. Anggur itu harusnya jadi saksi bisu awal kisah kita. Harusnya.

Ah, semakin aku mencoba mengingat, kepalaku makin sakit. Tapi aku tak mau berhenti. Sakit di kepalaku ini satu-satunya hal yang bisa mengalahkan sakit di hati. Baru kali ini aku begini. Gila. Benar-benar gila.

Aku ingat, tepat jam tujuh tadi malam aku berangkat ke rumahmu. Senyum tak bisa lepas dari bibirku. Otakku penuh dengan hal-hal bahagia yang kupikir akan kita lakukan, selepas malam ini. Mawar itu tergeletak di kursi mobil, sembari samar-samar menyerbakkan aroma wangi, yang menggoda hidungku. Cincin bermata berlian itu pun masih tersimpan manis, di dalam kotak kecil merah, didalam sakuku. Sebuah kejutan besar untuk orang paling spesial, gumamku. Aku kembali tersenyum kecil.

Senyum itu masih ada. Saat kulihat bendera kuning kecil di depan kompleksmu. Ah, mungkin itu tetanggamu, pikirku. Minggu lalu kau sempat bercerita, ada tetanggamu yang baru saja kena serangan jantung. Mungkin dia yang berpulang. Atau, mungkin partai berlambang beringin itu sedang kampanye di kompleksmu, hahaha, tawaku dalam hati.

Senyum itu mulai memudar, saat kulihat banyak mobil terparkir di depan rumahmu. Jantungku mulai berdegup kencang. SIAPA? Yang terlintas dalam otakku saat itu, ayahmu. Tapi segera kuhilangkan pikiran itu. Gila, kenapa aku malah berpikir seperti itu pada calon mertuaku. Tapi tetap saja, aku masih tak punya prasangka apa-apa. Kuputuskan untuk segera parkir dan segera menuju ke rumahmu.

Rumahmu ramai sesak. Banyak yang tak kukenal. Ada beberapa temanmu, sebenarnya. Dan mereka menangis. Hey, kenapa mereka? Jujur saja, aku tak akan menangis sampai seperti itu jika orangtua temanku berpulang. Aku tak mau bertanya pada mereka, lebih baik aku cari tahu sendiri. Aku bergegas masuk kedalam rumah.

Didalam, aku melihat ibumu. Ibumu menangis kencang. Histeris. Dan ayahmu disebelahnya, mencoba menenangkannya. TUNGGU. Ayahmu? Gila. Ini gila. LALU SIAPA? Siapa yang terbujur kaku dibalik kain batik itu? 

“Sabar Bu, sabar. Ini cobaan dari Tuhan, Bu. Tuhan menitipkan Ayu pada kita, dan kini Dia mengambil kembali apa yang memang milik-Nya.”, kata ayahmu untuk menenangkan ibumu.

OKE.

INI.

BENAR.

BENAR.

GILA.

Malam ini harusnya aku memberikan mawar ini padamu. Malam ini harusnya kau mengenalkan aku pada orangtuamu. Malam ini harusnya aku langsung menyatakan pada orangtuamu, bahwa aku akan meminangmu. Malam ini harusnya cincin ini sudah terselip manis di jari manismu. Malam ini harus nya tak begini. Malam ini harusnya berakhir indah.

Sudah cukup. Aku tak mau ada disini lama-lama. Cukup sudah. Aku tak mau lihat tubuhmu. Aku tak mau tahu kenapa kamu bisa terbujur kaku disitu. Yang aku mau, dan aku lakukan sekarang, adalah pergi secepatnya dari sini. Pergi sejauhnya, melarikan diri dari realita. Ini terlalu gila.

Kuinjak pedal gas sedalam mungkin. Melarikan diri sejauh mungkin. Mataku buta. Pikiranku gelap. Aku tak tahu mau kemana. Satu yang aku tahu. Aku baru saja dicabik-cabik. Dicabik-cabik oleh monster bernama takdir. ARGH!! Gila! Semua umpatan keluar dari bibirku. Entah kutujukan pada siapa. Dadaku sesak, sesuatu seperti meledak didalam sana. Itu hatiku. Hancur lebur.

Dan entah bagaimana, satu jam kemudian aku berakhir disini. Di sebuah bar di tengah kota. Aku ingat, bagaimana aku duduk di meja bar, kepalaku tertelungkup. Kemejaku basah oleh keringat dan air mata. Boys don’t cry, kata The Cure. Ah, omong kosong!! Aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk menghentikan rasa sesak di dadaku ini selain dengan membiarkan air mataku mengalir keluar. Aku tak peduli kata orang. Persetan mereka semua.

Aku baru saja dikalahkan. Dikalahkan lewat takdir. Tuhan yang mengalahkanku. Selamat! Kau sudah berhasil menghancurkan hidupku. Disaat aku mulai merasakan nikmatnya hidup, Kau hilangkan itu semua. Teganya Engkau! Apa salahku? Apa salah Ayu? Kenapa dia yang Kau ambil? Kenapa bukan yang lain? Kenapa bukan koruptor-koruptor bangsat itu yang kau ambil nyawanya? Kenapa bukan orang-orang sok suci, yang pakai nama-Mu sebagai pembenaran, yang kau ambil nyawanya? Kenapa bukan maling-maling, pembunuh-pembunuh, pemerkosa-pemerkosa itu yang kau ambil nyawanya? Kenapa Ayu? Kenapa sekarang? Kenapa tidak nanti, saat kami sudah merasakan apa itu kebahagiaan bersama? Kenapa tidak nanti, setelah kesepuluh anak kami lahir, tiga puluh cucu kami lahir? Kenapa? Kenapa Tuhan?

Sepertinya minuman setan ini yang membuat pikiranku jadi makin kacau begitu. Ah, peduli amat. Yang penting aku punya sesuatu utuk disalahkan. Atas kekalahanku. Atas kehilanganku.

Kembali kutenggak minumanku. Lagi dan lagi. Dan tahu-tahu aku terbangun disini, di apartemenku. Entah bagaimana caranya aku bisa sampai kesini dengan selamat. Terimakasih Tuhan.

Ah, mengingat ini semua kembali membuat dadaku sesak. Kekalahan besar ini menyeruak lagi. Mencoba mencari udara segar, kubuka jendela apartemenku. Mendadak terlintas sesuatu di otakku.

Hey, mungkin melompat dari ketinggian ini bisa membawaku padamu.

Advertisements

One thought on “#10 Sebuah Cerpen: Gila

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s